Penulis : Zamzam Zamaludin Yusup
Dari banyaknya pengalaman kepahitan hidup, saya sudah tidak tertarik untuk menang di mata manusia. saya hanya tertarik untuk membangun hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih, tidak goyah saat dibandingkan, dan tidak hancur saat di tinggalkkan. Artinya didalam tulisan inipun bukan untuk tujuan apapun kecuali untuk mengingatkan akan dosa-dosa yang jarang dirasa.
Perjalanan hidup membawa saya bertemu dengan banyak orang yang berwawasan, saya banyak merasa terkesima oleh orang-orang itu, namun disaat obrolan hangat menyelimuti ruang diskusi, selalu ada hal kecil yang terus menerus mengganggu saya sehingga membuat saya bertanya-tanya bahwa apakah yang ia sampaikan itu “memang benar” atau ia hanya “merasa benar?” Dan didalam tulisan ini bukan dalam upaya membahas yang “memang benar” tetapi akan membahas yang “merasa benar”.
Ternyata masih banyak diantaranya yang ketika ia membaca filsafat, ia terlalu cepat mencurigai makna hidup, namun terlalu lambat mencurigai kemalasan sendiri. Baca Nietzsche sedikit, merasa birokrasi busuk, kampus ambruk, namun lingkungan buruk adalah penjara yang patut ditunda.
Ketika ia membaca psikologi, Sigmun Freud hanya dipakai untuk menilai orang lain, Carl Gustav Jung hanya dipakai sebatas alat pembenaran diri. Semua teman jadi gejala, semua konflik jadi trauma, namun kemalasannya sendiri sering disebut sebagai proses pemulihan.
Ketika ia membaca Hukum, Michel Foucault mestinya membuatnya paham bahwa hukum bukan sekadar pasal, melainkan cara kuasa berpakaian rapi. Seharusnya mahasiswa hukum malu ketika adinda wapres bisa lolos lewat putusan yang kemudian dinyatakan bermasalah secara etik. Tapi ya begitulah kenyataannya, terkadang prosedur lebih cepat dewasa daripada hati nurani.
Ketika ia membaca sastra, Kafka dibawa ke tongkrongan untuk dipamerkan, Pramoedya sekedar dipakai untuk mempercantik captionnya, tetapi kemampuan membaca nasib masyarakat masih tetap jauh dari kata teliti. Akhirnya sastra cuma jadi hiasan peka, bukan cara untuk memahami negeri yang ganjil ini. Padahal Seno sudah lama menyerukan ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.
Ketika ia membaca ilmu komunikasi, Barthes mengajarinya tanda tak pernah netral. McLuhan membuatnya curiga pada media. Tapi saat impunitas diubah jadi citra gemoy, ia sibuk membahas engagement, bukannya sadar bahwa itu adalah bagian luka yang disulap jadi hiburan politik.
Ketika ia membaca ekonomi, paham inflasi, paham pasar, paham investasi dan paham efisiensi. Tapi Karl Marx saja tak pernah dibaca, Adam Smith pun tidak jadi pertimbangannya. Analisisnya pincang, angka dipuja, kelas dilupakan, ketimpangan disebut sebagai konsekuensi pasar.
Ketika ia membaca buku manajemen, bacaannya Simon Sinek dan Jim Collins, lalu merasa semua masalah selesai dengan visi. Padahal negeri ini penuh pemimpin visioner yang presentasinya rapi, tetapi miskin tanggung jawabnya.
Ketika ia membaca Sains, Heidegger mengingatkan bahwa teknologi tidak pernah sekadar alat. Tapi ia hidup di negeri dimana tempat proyek bisa dihitung presisi, sementara tanggung jawab menguap dari rancangan kesalahan teknis yang sengaja namun tetap dinormalisasi.
Ketika ia membaca kedokteran, menghafal anatomi, patologi, dan farmakologi. Tapi Ivan Illich tak pernah dibaca. Akhirnya ia tahu tubuh sakit, tetapi belum tentu paham mengapa sistem kesehatan sering membuat si miskin makin rentan.
Ketika ia membaca pendidikan, yang katanya membaca Paulo Freire. Seolah paham tentang pendidikan yang membebaskan. Tapi mengapa diam saja disaat negara sedang sibuk mengatur menu daripada membenahi mutu, ruang kelas, dan akses pendidikan.
Ketika ia membaca sosiologi, Bourdieu disebut untuk membahas habitus, Marx dipakai saat marah, Goffman hanya untuk muncul di makalah. Tetapi saat oligarki, bansos, dinasti, dan penggusuran bekerja secara terang-terangan, analisisnya sering mendadak padam.
Ketika ia membaca politik, Nicolo Machiavelli dibaca sebagai seni menang, Arendt dilupakan sebagai etika berpikir, dan Tsun Zu dipakai untuk bahas strategi. Namun, ketika ada tokoh dengan beban dugaan pelanggaran HAM bisa sampai ke istana, ia menyebutnya realisme elektoral, bukan amnesia politik.
Ketika ia membaca agama, Al Ghazali dikutip untuk akhlak semata. Ibnu Sina dikutip untuk nalar saja. Tapi kritik sosial jarang disentuh. Ilmu hanya jadi adab pribadi, sementara ketidakadilan publik dibiarkan lolos sebagai urusan dunia.
Ketika ia membaca pertanian, berbicara pangan, benih, dan tanah. Tapi Vandana Shiva atau kedaulatan pangan jarang dibaca serius. Akhirnya pertanian dianggap teknis, bukan medan untuk memenuhi kebutuhan hidup orang kecil.
Dan Ketika ia membaca sejarah, bayangkan mahasiswa sejarah itu seperti Aris Tayanu dan Rimba. Tidak hanya hafal rezim dan penguasa sebelumnya, tetapi menjaga ingatan tentang sesuatu yang dilupakan, alam yang dijarah, dan kekerasan yang disamarkan dengan dalih penertiban. Sebab kekuasaan selalu tahu bahwa masa depan itu lebih mudah dikuasai setelah masa lalunya berhasil dipoles.
Hal-hal yang telah diungkapan itu hanyalah sebagian dari banyaknya contoh realitas lapangan. Namun tentunya, tulisan ini bukan disajikan untuk para pembaca menjadi putus asa, akan tetapi menjadikannya pelajaran bahwa yang suka baca-pun belum tentu mengerti akan tantangan kehidupannya (apalagi yang tidak suka membaca).
Dan pelajaran berikutnya para pembaca bisa meningkatkan lagi tingkat bacaannya. Karena sejatinya, semakin banyak kita baca maka semakin banyak kita sadar, dan semakin banyak kita sadar semakin tahu juga apa yang seharusnya diamalkan. Hipotesa saya mengatakan, mungkin, belum sampainya ke titik amal itu antara gagal memahami makna sehingga tingkat kesadaraanya kurang atau adanya kekhawatiran sehingga ia rela kebenarannya itu kalah oleh kepentingannya.
Yang jelas Imam Al-Ghazali pun pernah berkata “Jasad itu berharga karena ada Ruh-nya, Ruh itu berharga karena ada ilmunya, ilmu itu berharga karena ada amalnya, dan amal itu berharga karena ada ikhlasnya” sehingga tugas minimalnya sampai ke taraf amal, karena persoalan ikhlas itu urusan vertical antara individu manusia dengan Tuhannya. (***)

