Penulis : Zeny (Kader HMI Komisariat AMF Cabang Kuningan, Mahasiswa UM Kuningan)
Aroma menyengat dari Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru, Jalaksana, sebenarnya sudah bisa dirasakan bahkan dari beberapa kilometer sebelum kita sampai di lokasi. Bagi sebagian masyarakat, bau ini mungkin hanya dianggap angin lalu yang sesaat.
Namun, di balik aroma yang menusuk hidung ini, terdapat ancaman nyata yang mengkhawatirkan. Tidak hanya itu, jalur yang menuntun kita ke sana sangat ekstrem. Apalagi setelah hujan turun, jalanan yang sebagian besar berupa bebatuan itu menjadi licin karena berlumpur, membuat para pekerja pengangkut sampah terlihat seperti kesulitan saat melintas.
TPSA Ciniru tercatat sudah beroperasi sejak tahun 2000, ini berarti menunjukkan sebuah rentang waktu lebih dari dua dekade. Sayangnya, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya populasi, tempat ini justru menjadi saksi bisu mengenai masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Kuningan, yang masih mengakar hingga saat ini.
Bagaimana tidak? Data di lapangan menunjukkan bahwa setiap hari, ada sekitar 25 truk dan beberapa kendaraan kecil angkutan sampah yang bergantian menuju TPSA Ciniru. Dengan perkiraan muatan mencapai 5-8 ton per truk, Volume sampah yang masuk dari Kota Kuningan tentu sangat masif. Lonjakan sampah yang terus terjadi ini membawa potensi besar terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup, khususnya bagi masyarakat sekitar.
Lonjakan sampah ini bukan hanya soal estetika atau aroma tidak sedap saja. Akan tetapi, terjadi pencemaran air, tanah dan emisi gas metana yang dihasilkan dari sampah organik. Para pekerja yang menjadi barisan terdepan bahkan warga sekitar dikhawatirkan oleh resiko penularan penyakit yang bisa berdampak jangka panjang.
Melihat kondisi ini, menjadi pertanyaan besar : Ke mana perhatian pemerintah selama ini? Kebijakan yang seolah belum ada kelanjutan mengenai pembenahan fasilitas maupun sistem di sana.
Meski ada upaya pengelolaan sampah organik menjadi gas metana yang memang patut kita apresiasi, namun langkah ini masih sangat minim jika dibandingkan dengan volume sampah yang terus membludak.
Akan tetapi, menyalahkan pemerintah saja tentu tidak adil. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah terkhusus di rumah yang menjadi permasalahan awal. Sering kali kita hanya ingin sampah menghilang dari depan mata tanpa peduli ke mana sampah itu dan bagaimana nasibnya setelah masuk ke dalam truk.
Oleh karena itu, masalah sampah bukan hanya sekadar urusan Dinas Lingkungan Hidup atau pengelola TPS saja. Ini adalah persoalan kolektif. Jangan sampai nanti kita mengalami penyesalan dan baru menyadari saat air di tanah kita tidak bisa lagi untuk diminum. TPS Ciniru adalah pengingat bahwa Bumi yang kita tinggali ini adalah titipan yang harus kita jaga dan rawat. Sudah saatnya kita semua berkontribusi, sebelum aroma menyengat ini berubah menjadi penyesalan yang tidak berujung.
Ini bukan tentang siapa yang akan mengatasi, tapi kita semua harus ikut berkontribusi untuk mencari solusi. (***)

