Penulis : Pujja Arifah Febriyanti Mahasiswa PGSD Semester 2 UM Kuningan magang internasional di Thailand selatan
THAILAND — Bayangkan kamu berdiri di depan kelas yang penuh dengan anak-anak Sekolah Dasar (SD). Kamu ingin mengajarkan bahasa Inggris, tetapi mereka sama sekali tidak mengerti satu kata pun. Kamu ingin menjelaskan dengan bahasa mereka (bahasa Thai), tapi kamu pun tidak bisa. Ditambah lagi, di sudut kelas, bayang-bayang aturan hukum pukul rotan dari guru lokal siap menanti jika anak-anak itu mulai berisik dan tidak tertib.
Itulah realitas ekstrem sekaligus berharga yang sedang saya jalani selama program magang KKN Internasional di Vuttisatvittayanuson School (โรงเรียนวุฒิศาสตร์วิทยานุสรณ์), Thailand. Memulai pengabdian sejak 21 Mei hingga nanti berakhir pada 19 Juli, waktu sekitar dua bulan ini menjadi ajang pembuktian mental yang luar biasa bagi saya yang saat ini baru menduduki bangku kuliah semester 2.
Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tahun pertama yang masih minim jam terbang dan baru mempelajari teori-teori dasar kurikulum, terjun langsung ke sekolah internasional berketerbatasan ekstrem seperti ini benar-benar memicu culture shock dan pedagogical shock yang luar biasa. Teori kelas ideal dan pendekatan Sekolah Ramah Anak yang baru kemarin saya pelajari di ruang kuliah, mendadak harus dibenturkan dengan realitas lapangan yang sangat menantang.
Hambatan terbesar yang saya hadapi setiap harinya adalah komunikasi. Saya terkunci dalam kondisi langiange barrier yang membingungkan. Anak-anak di sekolah ini, terutama di kelas rendah, sama sekali nol dalam bahasa Inggris. Di sisi lain, komunikasi dua arah tersendat karena saya belum menguasai bahasa Thai. Bahasa Melayu yang awalnya saya harapkan bisa menjadi jembatan komunikasi, ternyata hanya dipahami oleh hitungan jari di kelas tersebut. Jika di Indonesia kami bisa dengan mudah beralih ke bahasa Indonesia atau bahasa daerah saat murid bingung, di sini kemewahan itu hilang total.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas pembelajaran di sekolah mitra. Di era digital saat ini, guru di Indonesia sangat dimanjakan dengan proyektor, video YouTube, atau materi kreatif Canva untuk memahamkan anak SD yang kognisinya masih di tahap konkret. Namun, di Vuttisatvittayanuson School, fasilitas digital tersebut nihil. Keterbatasan bahasa dan absennya media visual modern memaksa saya, untuk memutar otak setiap malam demi menyusun rencana pembelajaran esok hari.
Solusinya? Kami kembali ke metode paling dasar namun paling tulus: gestural pedagogy atau bahasa tubuh. Setiap hari kelas riuh dengan gerakan-gerakan teatrikal saya. Untuk mengajarkan kata kerja, saya harus melompat, menari, dan meragakannya langsung. Papan tulis dipenuhi gambaran manual, dan benda-benda di sekitar kelas disulap menjadi alat peraga darurat.
Tantangan yang paling menguras mental selama mengajar di sini adalah perbedaan budaya disiplin sekolah. Di Indonesia, aturan perlindungan anak sangat ketat, dan kekerasan fisik dalam bentuk apa pun sudah ditinggalkan. Namun, di sekolah ini, hukum pukul rotan di telapak tangan masih berlaku aktif untuk menjaga ketertiban kelas tanpa memandang usia anak.
Melihat realitas ini, naluri saya sebagai calon guru SD bergolak. Keterbatasan komunikasi sering kali membuat kelas menjadi gaduh, namun kegaduhan itu berisiko membuat anak-anak kecil tersebut dihukum rotan oleh guru lokal. Dilema moral ini justru memicu kreativitas saya untuk menciptakan manajemen kelas yang super menyenangkan sejak dini. Saya merancang berbagai game fisik dan sistem penghargaan (seperti pujian dan bintang kecil) agar anak-anak tetap fokus, gembira, dan yang terpenting: terhindar dari bentakan atau pukulan rotan.
Meskipun masa magang saya masih menyisakan beberapa minggu lagi hingga pertengahan Juli nanti, pengalaman di Vuttisatvittayanuson School ini sudah mengajarkan saya satu hal penting yang tidak pernah ada di dalam buku teks kuliah semester awal. Menjadi guru sejati bukan tentang seberapa canggih fasilitas yang kita miliki atau seberapa lancar kita berbicara, melainkan tentang ketulusan, resiliensi, dan keberanian untuk meruntuhkan tembok keterbatasan demi masa depan anak-anak, di belahan bumi mana pun mereka berada. (***)

