Kronologi Darah: Dari Agresi I Hingga Operasi Gagak
Kuningan merasakan dua kali hantaman utama agresi Belanda.
Agresi Militer I – Juli 1947: Diawali dengan pemboman udara atas Cirebon pada 21-22 Juli 1947 dan penyebaran selebaran intimidasi dari Jenderal Spoor. Cirebon jatuh pada 30 Juli 1947. Pasukan Belanda kemudian merangsek ke Kuningan utara lewat Mandirancan pada Agustus 1947. Inilah titik yang memaksa Residen Hamdani menetapkan Ciwaru-Ciniru sebagai ibu kota darurat.
Masa Konsolidasi Gerilya 1947-1948: Belanda berulang kali menggelar operasi pembersihan ke Ciwaru untuk memburu Kompi Kusuma Negara, namun selalu gagal berkat sistem peringatan dini rakyat dan medan hutan yang sulit ditembus.
Agresi Militer II / Operatie Kraai (Operasi Gagak) – 19 Desember 1948: Ini adalah periode paling kelam. Belanda melancarkan operasi serentak untuk melumpuhkan Republik. Di Kuningan, tragedi terjadi di Cibingbin, perbatasan Kuningan-Brebes.
Pasukan gerilya yang minim senjata terjebak dalam pengepungan tiga penjuru dari arah Brebes, Kuningan, dan Cirebon. Baku tembak tak seimbang terjadi. Peristiwa itu berakhir dengan pembantaian pejuang Indonesia yang gugur mempertahankan tanah kelahiran. Hingga kini, lokasi-lokasi pembantaian itu masih menyisakan kisah lisan yang hidup di kalangan keluarga veteran.
Linggarjati dan Harga Sebuah Perjanjian
Ironisnya, Kuningan juga menjadi tempat lahirnya diplomasi. Di kaki Gunung Ciremai, berdiri sebuah bangunan yang awalnya gubuk milik Ibu Jasitem (1918), lalu dibeli warga Belanda Tuan Vanos menjadi Hotel Rustoord (1930), diambil Jepang menjadi Hotel Hokai Ryokan, dan setelah proklamasi menjadi Hotel Merdeka.
Atas usulan Menteri Sosial Maria Ulfah, tempat yang sejuk, netral, dan aman ini dipilih untuk perundingan. Pada 11-13 November 1946, di sinilah Sutan Sjahrir dan Wim Schermerhorn, ditengahi Lord Killearn dari Inggris, melahirkan Perjanjian Linggarjati. Belanda mengakui kedaulatan de facto Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
Namun pengkhianatan Belanda atas Linggarjati lewat Agresi Militer membuat gedung itu sempat menjadi markas Belanda, lalu SDN (1950-1975), sebelum akhirnya dipugar menjadi Museum Linggarjati seperti sekarang. Linggarjati adalah simbol bahwa diplomasi dan pengkhianatan hidup berdampingan.
Hijrah Siliwangi: Long March yang Mengosongkan Jawa Barat
Dampak paling pahit dari diplomasi adalah Perjanjian Renville, 17 Januari 1948. Isinya memaksa TNI meninggalkan Jawa Barat yang diklaim masuk wilayah Belanda.
Perintah turun gunung datang dari Panglima Siliwangi, Jenderal Mayor A.H. Nasution melalui kurir rahasia ke semua kantong gerilya termasuk Kuningan.
Awal Februari 1948, sekitar 30.000 prajurit Siliwangi yang dijuluki “Maung” keluar dari hutan. Cirebon menjadi titik kumpul utama.
2-22 Februari 1948, Hijrah Akbar dimulai dalam tiga jalur:
Jalur Kereta: Dari Stasiun Cirebon Parujakan menuju Yogyakarta, ibu kota RI.
Jalur Laut: Dari Pelabuhan Cirebon ke Rembang, Jawa Tengah, dengan pengawasan Komisi Tiga Negara.
Jalur Darat: Berjalan kaki menembus garis demarkasi Van Mook menuju Wonosobo dan Gombong. Inilah jalur yang ditempuh sebagian besar gerilyawan dari pedalaman Kuningan.
Dipimpin Eselon I Letkol A.E. Kawilarang dan Eselon II Letkol Sadikin, Jawa Barat kosong dari tentara resmi. Namun pengosongan inilah yang justru menyelamatkan Republik, karena pasukan Siliwangi inilah yang kelak menghancurkan pemberontakan PKI Madiun 1948 dan melakukan Long March kembali ke Jawa Barat saat Agresi II pecah.
Sejarah Kuningan adalah sejarah tentang bagaimana sebuah kabupaten yang jauh dari pusat kekuasaan memilih untuk tidak menyerah. Dari Ciwaru yang menjadi ibu kota darurat, dari hutan yang menjadi sekolah perang, Kuningan mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak pernah dihadiahkan di meja perundingan saja, melainkan ditebus dengan darah di medan gerilya. (-Dari berbagai sumber). Dirgahayu RI ke-81 dan Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528. (Redaksi)

