Kuningan – Geliat kemajuan perekonomian Kabupaten Kuningan menunjukan tren positif, mengalami kenaikan secara konsisten dalam periode kepemimpinan pasangan Bupati H. Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani.
Hingga kanal resmi Kawasan Rebana mempublikasikan data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan secara year-on-year (YoY) mencatatkan kinerja ekonomi paling impresif sepanjang tahun 2925, dengan capaian hingga 6,98 persen.
Dan prestasi ini mendudukan Kuningan pada posisi tertinggi di antara tujuh kabupaten/kota yang tergabung dalam kawasan Rebana, yakni koridor ekonomi dan Metropolitan baru di bagian utara Jawa Barat yang diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, didukung oleh infrastruktur strategis seperti Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, serta Tol Cipali dan Cisumdawu.
Disusul Kabupaten Sumedang yang menorehkan catatan pertumbuhan 5,48 persen, Kota Cirebon 5,34 persen, Kabupaten Subang 5,01 persen, serta pertumbuhan ekonomi sebesar 3,09 persen yang dicapai Kabupaten Indramayu.
Tak hanya di kawasan Rebana Kuningan menorehkan catatan pertumbuhan ekonomi tertinggi, data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) menunjukan jika kinerja daya saing kabupaten yang terletak di lereng timur Gunung Ciremai ini mengalami peningkatan signifikan.
Data BRIN menampakan, setelah pada IDSD 2024 meraih skor 3,82 dan menempati peringkat ke-14 nasional dari 416 kabupaten di Indonesia, pada rilis terbaru IDSD 2025 skor Kuningan meningkat menjadi 3,88, sekaligus menempatkan Kabupaten Kuningan di peringkat ke-4 tertinggi di antara kabupaten se-Provinsi Jawa Barat, berada tepat di bawah Kabupaten Sumedang (4,04), Kabupaten Bandung (3,93), dan Kabupaten Bogor (3,91).
Menyikapi raihan prestasi ini, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si menegaskan, bahwa capaian tersebut menjadi indikator bahwa pembangunan daerah berjalan ke arah yang semakin kompetitif sekaligus berkelanjutan, meskit tetap konsisten dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, karena Kuningan memiliki peran strategis sebagai wilayah konservasi dan penopang hijau di kawasan Rebana.
“Capaian IDSD ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan daerah sekaligus memberikan sinyal positif bagi investor untuk melihat Kuningan sebagai daerah yang memiliki potensi besar untuk berkembang,” tandasnya.
Dikatakan Dian, kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang kuat, peningkatan daya saing daerah, serta komitmen menjaga kawasan konservasi, menjadikan Kuningan memiliki posisi strategis dalam peta pembangunan kawasan Rebana.
“Melalui capaian ini, Kuningan tidak hanya memimpin pertumbuhan ekonomi di kawasan Rebana pada 2025, tetapi juga memperkuat perannya sebagai daerah yang mendorong pembangunan ekonomi secara berkelanjutan di wilayah timur Jawa Barat,” kata Dian.
Sementara, Kepala Pelaksana Badan Pengelola Kawasan Rebana, Helmy Yahya, menilai kawasan Rebana memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat bahkan nasional. Dan kawasan ekonomi seperti ini hanya ada satu-satunya di Indonesia.
“Potensinya luar biasa dan kami ingin seluruh kepala daerah di wilayah Rebana terlibat aktif agar kerja sama ekonomi daerah semakin kuat dan saling menguntungkan. Karena, pengembangan Rebana yang didukung kawasan industri, konektivitas infrastruktur, serta keberadaan pelabuhan dan bandara akan memperkuat daya tarik investasi sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat,” ungkap Helmy. (Yud’s)

