Majalengka – Sebagai bagian dari tugas khusus matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila, mahasiswa semester 1, Program Studi D3 Keperawatan dan S1 Gizi, Fakultas Kesehatan Universitas Sindang Kasih Majalengka (USKM) ikuti kegiatan Pelatihan Bela Negara yang bertempat di markas Batalyon Infanteri (Yonif) 321 Galuh Taruna, Sabtu (20/12/2025).
Dosen pengampu mata kuliah, Karim Pamela, M.M menjelaskan, bahwa pelatihan tersebut merupakan implementasi nyata dari teori yang didapatkan mahasiswa di dalam kelas. Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul dalam bidang medis dan kesehatan, tetapi juga memiliki karakter disiplin, cinta tanah air, dan jiwa kepemimpinan yang kuat.
“Pendidikan tinggi kesehatan menuntut ketahanan fisik dan mental yang prima. Melalui pelatihan di Yonif 321 ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai Pancasila dan semangat Bela Negara secara langsung, sehingga mahasiswa memiliki integritas tinggi saat nantinya terjun melayani masyarakat,” jelas Karim Pamela.
Karim memperinci, selama berada di lingkungan militer, para mahasiswa mendapatkan berbagai materi dan simulasi, di antaranya, Wawasan Kebangsaan yang merupakan merupakan pilar utama dalam pelatihan Bela Negara di Yonif 321 Galuh Taruna.
Dalam konteks mahasiswa kesehatan Universitas Sindang Kasih Majalengka, materi ini diberikan untuk memperkuat imunitas ideologi mereka di tengah arus informasi global. Tim Pelatih memberikan gambaran mengenai posisi strategis Indonesia dan tantangan masa depan, termasuk ancaman bioterorisme atau krisis kesehatan global. Mahasiswa diingatkan bahwa tenaga kesehatan adalah “benteng pertahanan” negara dalam aspek kesehatan masyarakat.
Pengenalan Senjata. Materi Pengenalan Senjata bukan bertujuan untuk melatih mahasiswa menjadi prajurit tempur, melainkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan tinggi, dan pengenalan terhadap alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) TNI sebagai kebanggaan negara.
Pengenalan senjata ini, menurut Karim, adalah bagian dari membangun mentalitas pejuang. Jika prajurit berjuang dengan senjata di medan perang, maka mahasiswa kesehatan akan berjuang dengan alat medis dan pengetahuan gizi untuk melawan penyakit dan stunting demi masa depan bangsa.
Flying Fox. Saat berada di platform ketinggian, mahasiswa dilatih untuk mengalahkan keraguan dan berani mengambil langkah pertama untuk meluncur. Melatih kontrol diri saat menghadapi situasi yang memacu adrenalin, keterampilan yang sangat penting saat menangani kondisi darurat medis. Perawat dan ahli gizi sering bekerja dalam situasi stres tinggi.
Flying Fox melatih mereka agar tetap fokus pada instruksi meskipun jantung berdebar kencang. Mahasiswa belajar mempercayai peralatan dan rekan tim yang memegang tali pengaman, sama seperti tenaga kesehatan yang harus percaya pada kerja sama tim di rumah sakit.
Peraturan Baris Berbaris. Karim memaparkan beberapa poin mengapa PBB sangat krusial bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan diantaranya, Disiplin SOP. Dunia medis penuh dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang kaku. PBB melatih mahasiswa untuk terbiasa mengikuti prosedur secara presisi tanpa kompromi. Manajemen Waktu. PBB mengajarkan ketepatan waktu dalam setiap aba-aba, hal ini relevan dengan ketepatan pemberian obat atau intervensi gizi pada pasien. Ketahanan Fisik (Endurance). Berdiri tegak dalam waktu lama melatih otot dan mental mahasiswa agar kuat saat harus bertugas dalam operasi atau pelayanan kesehatan yang panjang.
Dan tang terakhir Leadership dan Team Building. Dalam dunia kesehatan, seorang perawat atau ahli gizi jarang bekerja sendirian; mereka adalah bagian dari tim medis. Oleh karena itu, materi ini dirancang untuk mengubah mentalitas individu menjadi mentalitas kolektif.
“Materi ini dengan nilai-nilai luhur bangsa: Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Diwujudkan melalui kekompakan tim tanpa membedakan suku, agama, atau latar belakang. Sila ke-4 (Musyawarah): Melatih mahasiswa untuk bermusyawarah dalam menentukan strategi saat menghadapi permainan simulasi taktis,” rinci Karim.
Karim menegaskan, pihak Fakultas Kesehatan Universitas Sindang Kasih berharap, kolaborasi dengan Yonif 321 Galuh Taruna ini dapat terus berlanjut. Bagi mahasiswa D3 Keperawatan dan S1 Gizi, pengalaman ini menjadi modal berharga dalam membentuk etika profesi yang tangguh.
Kegiatan ditutup dengan upacara pelepasan yang penuh khidmat, menandai kesiapan para mahasiswa untuk kembali ke kampus dengan semangat baru dalam menempuh studi dan mengabdi pada bangsa. (Ade Muis)

