Penulis : Karim Pamela, M.M. (Dosen Universitas Sindang Kasih Majalengka)
“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Filosofi yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang kini dijadikan dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tanggal 2 Mei menjadi tanggal yang dipilih utnuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Penghormatan ini diberikan kepada Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Beliau memberikan pesan makna yang sangat mendalam bahwa pendidikan akan melahirkan jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan berkarakter yang mampu memberikan teladan, memberikan semangat dan memberikan dorongan kepada setiap manusia.
Setiap Ruang adalah Sekolah
Setiap orang bisa belajar di mana saja dan kapan saja tanpa harus di batasi ruang formal yaitu kelas. Rumah, lingkungan, tempat kerja atau ruang publik lainnya itu semua adalah akses untuk kita terus selalu belajar.
Kita bisa belajar dari pengalaman perjalanan hidup diri kita sendiri atau bahkan bisa belajar dari pengalaman hidup orang lain. Mengamati lingkungan sekitar dan selalu menyelesaikan setiap problem dalam kehidupan menjadikan sumber pembelajarannya yang nyata dan langsung. Maka dari situ pendidikan hadir membersamai kita untuk teteap tumbuh dan berkembang.
Mendapatkan Ijazah bukan tanda bahwa belajar sudah selesai, melainkan kita akan di uji di masyarakat sejauh mana kompetensi yang dimiliki oleh kita sebagai bentuk dampak atau manfaat yang akan dirasakan di masyarakat. Dari hal itu Sekolah Kehidupan jauh lebih kompleks dan akan selalu ada sepanjang hayat selagi kita diberikan umur panjang oleh Sang Pencipta.
Di luar kelas kita akan dituntut juga untuk bisa hidup mandiri, punya kreatifitas dan berperan aktif sebagai bentuk bahwa ilmu bisa bermanfaat utuk masyarakat luas. Perkembangan Zaman menjadi tantangan sekaligus peluang bahwa akses pendidikan akan jauh lebih cepat didapatkan.
Setiap Orang adalah Guru
Tidak hanya guru formal di sekolah yang berperan mendidik, tetapi juga orang tua, kakak, teman, tetangga, bahkan masyarakat luas memiliki andil dalam membentuk karakter dan pengetahuan seseorang. Setiap tindakan dan ucapan kita bisa menjadi pelajaran bagi orang lain, terutama bagi anak-anak. Orang menjadi “guru” bukan karena gelar, tetapi karena sikap dan perbuatannya yang bisa ditiru atau dijadikan contoh.
Siapa pun bisa menjadi sumber ilmu. Tidak ada batas usia, jabatan, atau latar belakang—setiap orang punya pengalaman atau wawasan yang bisa dibagikan. Ketika semua orang menyadari perannya sebagai “guru,” maka akan tercipta masyarakat yang lebih peduli, bijak, dan mendukung pertumbuhan generasi muda secara positif.
Pendidikan Merupakan Hak Semua Orang
Ungkapan ini mengajak kita semua untuk tidak hanya menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, tetapi turut serta aktif menjadi panutan dan pembimbing dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sejati terjadi setiap hari—dan siapa pun bisa menjadi gurunya. (***)

