FEATURE | JURNALINFORMASI.COM – Jika sepak bola adalah olahraga paling populer, maka atletik adalah ibu yang melahirkannya. Dan ibu itu, tumbuh subur di lereng timur Gunung Ciremai.
Kabupaten Kuningan. Kabupaten yang selama ini dikenal dengan hawa sejuk dan panorama pegunungannya, ternyata menyimpan rahasia lain: ia adalah lumbung atlet atletik paling konsisten di Jawa Barat. Bukan hanya juara di tingkat Porda atau Porprov, tapi pencetak ‘Rekor Nasional’, peraih emas PON, hingga pembela Merah Putih di level Asia Tenggara.
Tokoh olahraga Kuningan, Asep Ismanto, menyebut ini bukan kebetulan.
“Atletik itu mother of sports, induk dari semua cabang olahraga. Karena di dalamnya ada gerakan dasar manusia: berjalan, berlari, melompat, dan melempar. Dan Kuningan punya laboratorium alam terbaik untuk itu,” ujarnya saat ditemui, Rabu (12/8/2026).
Kontur Kuningan yang berbukit dan bergunung, kata Asep, adalah anugerah. Latihan di ketinggian secara natural mendongkrak VO2 Max, memperkuat otot dan sendi, sekaligus menempa ketahanan mental. Modal yang tidak bisa dibeli di gym manapun.
1997: Awal Dari Lapangan Pindah-Pindah
Sejarah modern atletik Kuningan dimulai tahun 1997. Setahun kemudian, di PORDA 1998 Kabupaten Bogor, nama Kuningan mulai diperhitungkan. Rika Pardani, Meilina, dan Dudung muncul sebagai peraih medali.
Saat itu pola pembinaannya masih dititipkan ke PPLP Jawa Barat di Bandung. Setiap tahun, Kuningan rutin mengirimkan talenta terbaiknya untuk seleksi.
Titik balik terjadi tahun 2001. Dengan dukungan Pemkab Kuningan melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, dibentuklah klub-klub olahraga pelajar. Dari 10 cabor, atletik menjadi yang paling gigih bertahan.
Perjalanannya tidak mulus.
“Tempat latihan pindah-pindah, peralatan belum standar, baju latihan pun terbatas. Tapi justru dari tantangan itu motivasi kami semakin kuat,” kenang Asep.
Keajaiban datang dari Desa Kaliaren. Seorang pengusaha sekaligus donatur mempersilakan kebun miliknya dipakai untuk latihan. Kebun itulah yang kini menjadi markas legendaris: Cilimus Athletic Club (CAC).
Dari kebun, CAC kemudian ditetapkan sebagai pilot project pembinaan olahraga pelajar oleh Dispora Provinsi Jawa Barat. Bahkan, saat Imam Nahrawi masih menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga RI, ia menyempatkan diri datang langsung meninjau latihan di kebun itu. Sebuah validasi nasional bahwa dari Kuningan, ada sesuatu yang besar sedang tumbuh.
Deretan Pemecah Rekor Nasional dari Kuningan
Jika diurutkan dari rekor nasional, inilah piramida prestasi atletik Kuningan:
1. Tresna Puspita Gusti Ayu – Sang Ratu Lempar
Atlet senior paling berprestasi Kuningan saat ini. Tradisi pemecah rekor nasional lontar martil dan lempar cakram putri tercatat atas namanya.
Pemegang Rekor Nasional Lontar Martil Putri 51,20 meter (2013) dan Lempar Cakram Putri 44,50 meter (2015)
2x Emas PON: PON XX Papua 2021 Lontar Martil 50,73 m, dan PON XXI Aceh-Sumut 2024 Lontar Martil 52,44 m sekaligus memecahkan Rekor PON
Emas Lempar Cakram PON XXI
2. Alif M. Baskar – Pelompat dari Kaliaren, Kecamatan Cilimus (Adik dari Tresna Puspita Gusti Ayu)
Pemegang Rekor Nasional Lompat Tinggi Putra Remaja 2,02 meter – rekor yang sudah 10 tahun tak terpecahkan
Pemecah Rekor Nasional Dasalomba Putra dan Lompat Tinggi Remaja Putra
Peraih emas Porda XIII untuk Lompat Jauh dan Lompat Tinggi
3. Nathasya Mahdalita – Berlian dari Pasawahan
Lahir 3 Maret 2004 di Desa Pasawahan, mengawali latihan di kebun.
Pemegang Rekor Nasional Lontar Martil Remaja Putri
Emas Popnas XV 2019 dengan pecah Rekor Nasional
Emas ASEAN Schools Games 2019 Semarang dengan lemparan 56,34 m, memecahkan rekor remaja yang sebelumnya dipegang seniornya, Tresna Puspita
Perak PON XXI 2024 di belakang Tresna
Mereka dilengkapi dengan nama-nama lain yang pernah memperkuat Timnas Indonesia di multi-event internasional: Eki Febrian, Ulfa Fahri, Ika Puspadewi, dan banyak lagi.
4 Legenda Emas PON 2012: Puncak Kejayaan
Bagi Asep, prestasi tertinggi atletik Kuningan hingga hari ini adalah PON XVIII Riau 2012. Saat itu, atlet Kuningan yang membela Jawa Barat menjadi penyumbang medali terbesar untuk Jabar dari cabor atletik.
Keempat legenda itu adalah:
1. Eki Febri Ekawati – Emas Tolak Peluru Putri sekaligus pemecah rekor PON dengan lemparan 13,89 m, memecahkan rekor sebelumnya 13,77 m milik atlet Papua.
2. Dudung Suhendi – Emas Lontar Martil Putra.
3. Ika Puspadewi – Emas Lompat Tinggi Putri dan Perak Lompat Jangkit Putri.
4. Rio Prasetyo – Perunggu Lari 400 m Gawang Putra.
Atas prestasi monumental itu, keempatnya mendapat kadeudeuh langsung dari Bupati Kuningan saat itu, H. Aang Hamid Suganda.
Regenerasi Tak Putus: Juara Umum III Kejurda 2024
Tongkat estafet tidak putus. Pada Kejurda Atletik Championship 2024 di Bandung, 1-2 Mei 2024, PASI Kuningan keluar sebagai Juara Umum III dengan 30 medali: 13 emas, 9 perak, 8 perunggu dari kelompok umur U-16, U-18, dan U-20.
Nama-nama baru bermunculan: Rafi Suta Wijaya yang dobel emas di Tolak Peluru dan Lempar Cakram U-18 Putra, Laysa Putri di Lontar Martil U-20 Putri, Febriani R, Novita Nur, Isa Saefullah, Razib Q, Raya S, Tessa A, Roby, Fuji F, hingga Marcel.
“Urutan prestasi tertinggi Kuningan kalau dari rekor nasional itu jelas: Dudung Suhendi, Eki Febri Ekawati, Tresna Puspita Gusti Ayu, Alif M Baskar, dan Nathasya Mahdalita,” tegas Asep.
Kini, di bawah Ketua PASI Kuningan Hj. Eva Nurafifah Latief, pembinaan terus dipacu untuk Porprov Jabar mendatang.
Dari kebun yang dipinjamkan, dari lapangan yang berpindah-pindah, dari kaki Gunung Ciremai, Kuningan telah membuktikan satu hal: untuk menjadi juara nasional, tidak selalu butuh fasilitas mewah. Cukup napas pegunungan, tekad yang keras, dan keyakinan bahwa atletik adalah ibu dari semua prestasi. ***Dirgahayu RI ke-81 dan Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528. (Yud’s)

