Kuningan – Kabupaten Kuningan kembali membuktikan diri sebagai pionir kerukunan umat beragama, dengan suksesnya rangkaian gelaran Upacara Adat Seren Taun 1957 Saka/2026 Masehi yang dipusatkan di kawasan budaya Paseban Tri Panca Tunggal, Kelurahan/Kecamatan Cigugur, selama enam hari, dari tanggal 3 hingga 8 Juni 2026.
Berbagai elemen masyarakat, dari beragam latar belakang agama dan etnis tampak larut merefleksikan rasa syukur dan kebersamaan dalam ritual tradisi budaya warisan turun temurun tersebut, sekaligus mempertegas representasi toleransi di Kuningan bertumpu pada kearifan lokal Sunda, melalui nilai-nilai silih asih, silih asah dan silih asuh.
Hingga atmosfer estetika yang divisualisasikan dalam tampilan aneka seni budaya, baik yang berasal dari daerah Kuningan sendiri maupun dari luar wilayah di Nusantara, menjadi daya sedot begitu kuat bagi wisatawan lokal maupun asing untuk hadir menyaksikan langsung perhelatan syukur penyerahan atau pergantian tahun, juga merupakan upacara adat panen padi dan ungkapan rasa syukur masyarakat agraris Sunda, sajian pusat episentrum toleransi Kabupaten Kuningan, Cigugur.
Seperti ditegaskan Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, saat menyampaikan sambutan dalam prosesi acara puncak Seren Taun 1957 Saka/2026 Masehi, pada Minggu (7/6/2026), bahwa Seren Taun sebagai miniatur Indonesia yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam suasana harmonis.
“Masyarakat Cigugur telah memberikan teladan, bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan persaudaraan. Keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama,” tegasnya.
Seren Taun juga, kata Dian, bukan sekadar perayaan panen, melainkan sebuah perjalanan kehidupan yang mengajarkan manusia bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri, harus selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan,” kata Dian.
Dan, di tengah arus perkembangan zaman yang semakin cepat, Dian menekankan, jika masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi identitas dan kekuatan bangsa.
“Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya,” ucapnya.
Berdasarkan rasa bangga, karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional. Dimana, ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kuliner, tetapi juga berbicara tentang Cigugur dan Seren Taun
Untuk itu, sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan terhadap pelestarian budaya, Bupati Dian mengungkapkan bahwa Seren Taun akan didorong menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan yang mendapatkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah.
“Tahun depan Insya Allah Seren Taun akan menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan dan akan kita dukung sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor pariwisata daerah,” ungkapnya.
Tampak hadir pada puncak perayaan Seren Taun selain Bupati Kuningan, di antaranya Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj. Ika Siti Rahmatika, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan Nuzul Rachdy, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kuningan, Kapolres Kuningan, Danramil Cigugur Kapten Arh Suboso, istri almarhum Pangeran Djatikusumah Amelia Djatikusumah, Pupuhu Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Pangeran Gumirat Barna Alam, Ketua Panitia Seren Taun Dewi Kanti Setianingsih, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat, dari Keraton Kacirebonan, Raden Entol Rahmat Suhadi dari Kasepuhan Cirebon, Lukman Soemadi Soria dan R. Nia Kurniasih dari Kraton Sumedang Larang, serta Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia I Nyoman Gede Agus Asrama. (Yud’s)

