Kuningan – Dalam acara pembukaan Jambore Penyuluh Pertanian Se-Jawa Barat Tahun 2025 yang digelar DPW PERHIPTANI – IAEA Provinsi Jawa Barat, di Kabun Raya Kuningan (KRK), Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Selasa (29/4/2025), selain bersyukur atas dipilihnya Kabupaten Kuningan sebagai lokasi jambora, Bupati H. Dian Rachmat Yanuar juga memperkenalkan Strategi Ketahanan Pangan dan Pertanian di kabupaten yang dipimpinnya.
Di acara jambore yang berlangsung mulai tanggal 28 hingga 30 April dan diikuti 1000 orang Penyuluh Pertanian se-Jawa Barat itu, saat pembukaan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, sejumlah pejabat tinggi negara, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar, Wakil Bupati Kuningan Hj. Tuti Andriani, Forkopimda Kuningan, Anggota DPR RI, DPRD Provinsi, serta DPRD Kabupaten Kuningan, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Dadan Hidayat, Pj. Sekda Kuningan Beni Prihayatno, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan Hj. Ela Helayati, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah, dan para ketua DPD PERHIPTANI kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Saat memberikan sambutan, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya jambore, seraya menekankan pentingnya pertanian dalam kehidupan bangsa.
“Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan nafas kehidupan. Setiap butir padi dan tetes keringat di ladang adalah bagian dari perjuangan menjaga ketahanan pangan bangsa,” ucap Dian.
Diterangkan Dian, Kuningan sendiri mencatat prestasi menggembirakan di sektor pertanian, pada tahun 2024 produksi gabah kering giling mencapai 352.511 ton, dengan surplus beras sebanyak 93.070 ton, hingga Kabupaten Kuningan dikenal sebagai sentra hortikultura, yang juga terus mengembangkan sektor peternakan, termasuk sapi perah, sapi pasundan, kambing, serta unggas.
Berbagai program strategis dalam ketahanan pangan dan pertanian diperkenalkan Bupati Dian dalam momen Jambore tersebut, di antaranya BERNAS (Benih untuk Rakyat Meningkatkan Produktivitas), BANG PUPUK (Bantuan Gapoktan untuk Penebusan Pupuk), GPM PADARINGAN (Gerakan Pangan Murah) TAMAN MASAGI (Tanam di Halaman Mitra Sinergi Jaga Inflasi), DESA B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).
“Program-program ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan, pengangguran, inflasi daerah, serta menurunkan prevalensi stunting,” terang Dian.
Bupati Kuningan juga mengajak generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian, melihatnya sebagai profesi yang modern, menjanjikan, dan penuh inovasi.
“Mari kita ubah paradigma lama. Bertani bukan lagi pekerjaan tradisional, tapi profesi kelas atas yang jadi solusi masa depan bangsa,” tandasnya.
Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menambahkan, bahwa persiapan jambore telah dilakukan secara intensif sejak awal tahun, melibatkan lintas sektor, penyuluh dan petani.
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh elemen pertanian di Kuningan terlibat aktif, dari kelompok tani, penyuluh, pelaku UMKM. Jambore ini bukan sekadar seremoni, tapi forum strategis berbagi inovasi dan praktik baik antar-daerah,” ujarnya.
Menurut Wahyu, momentum ini memperkuat semangat kolaborasi dan mempercepat adopsi teknologi di kalangan petani.
“Kami optimistis, semangat dari Jambore ini akan menjadi energi baru untuk mendorong pertanian Kuningan semakin maju, mandiri, dan modern,” tutur Wahyu.
Dikesempatan itu, sebagai wujud penghargaan atas komitmen dan dukungannya terhadap program penyuluhan serta pertanian berkelanjutan di Kabupaten Kuningan, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar dianugerahi gelar “Bupati Peduli Penyuluh Pertanian dan Pertanian Berkelanjutan”.
Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Ketua DPW PERHIPTANI Jawa Barat, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi beliau dalam memajukan sektor pertanian dan menguatkan peran strategis para penyuluh di wilayahnya. (Yud’s)

