FEATURE, JURNALINFORMASI.COM – Pagi itu awal Agustus, halaman Gedung Perundingan Linggarjati di kaki Gunung Ciremai tak lagi sepi. Ribuan bendera Merah Putih kecil menancap rapat di pagar besi, di taman, di kanan-kiri tangga batu. Jika angin Ciremai bertiup, 10.001 bendera itu bergetar bersamaan, seperti lautan.
Pemandangan ini bukan dekorasi seremonial pemerintah. Ini adalah tradisi yang lahir dari keresahan satu perempuan, yang kini telah menjadi gerakan kolektif Kabupaten Kuningan.
Gerakan itu bernama Gebyar 10.001 Bendera Merah Putih.
“NKRI Harga Mati Ada di Sini”
Jika Anda datang pada 2016, suasananya berbeda. Menjelang HUT RI, kompleks situs bersejarah tempat perundingan diplomatik pertama RI-Belanda ini justru tampak gersang tanpa atribut kemerdekaan.
Keresahan itulah yang dirasakan almarhumah Hanna Nining, aktivis perempuan asal Desa Caracas, Kecamatan Cilimus.
“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi Benteng Merah Putih…”
Itulah penggalan puisi yang kerap ia bacakan, yang kemudian menjadi roh gerakan ini. Hanna mulai pada 2013 bersama komunitas kecil DADALIWANI yang bergerak di bidang sosial-lingkungan, dan secara serius mengibarkan bendera pertama sejak 2016.
Ia tidak punya dana besar. Pada Agustus 2016, ia hanya ditemani beberapa emak-emak mengumpulkan bendera sumbangan warga. Baru 5.000-6.000 bendera yang tertancap. Tapi pesannya sudah sampai.
Hanna Nining wafat pada 22 Maret 2022, namun angka yang ia patok — 10.001 — hidup terus.
Wawancara Eksklusif: Penerus Api dari Yayasan Jiwa Merah Putih
Estafet itu kini dilanjutkan oleh sahabat seperjuangannya, Henny Kurnia Asih Ketua Yayasan Jiwa Merah Putih.
Dalam wawancara khusus menjelang pelaksanaan ke-11 pada Agustus 2026 ini, Henny menegaskan, gerakan ini sengaja dibuat tetap swadaya.
JI: Bu Henny, kenapa harus 10.001? Kenapa tidak 10.000 saja?
“Angka 10.001 itu bukan soal banyak-banyakan. Teteh Hanna selalu bilang, angka 10.001 itu menunjukkan bahwa Indonesia terdiri dari berbagai pulau, bahasa, suku, kesenian, dan budaya. Bendera Merah Putih yang mengikat dan mempersatukannya,” ujar Henny, mengenang kalimat yang terus ia pegang.
“Beliau juga selalu berpesan: Ketika orang berteriak lantang NKRI harga mati adanya di mana? Di Gedung Perundingan Linggarjati ini salah satunya. Di sinilah kedaulatan kita diakui dunia pertama kali lewat diplomasi pada tahun 1946,”
JI: Dulu hanya emak-emak, sekarang ribuan pelajar dan bupati ikut kirab. Apa yang berubah?
“Awalnya kami memang komunitas kecil. Sekarang kami dilembagakan di bawah Yayasan Jiwa Merah Putih. Tujuan yang ingin dicapai sang penggagas melalui gebyar merah putih adalah untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme generasi muda yang saat ini cenderung memudar,” kata Henny, yang akrab disapa Hennoy
Henny menceritakan, sejak 2022 setelah pandemi, tradisi ini bangkit lebih masif. Tahun ke-7 (HUT ke-77 RI), pemasangan dilakukan serentak sejak 1-31 Agustus oleh ormas, LSM, pelajar, mahasiswa,komunitas,paguyuban dan masyarakat umum.
Dan kini, memasuki tahun ke-11, gerakan yang dirintis 11 tahun silam oleh Hana Nining telah menjadi agenda resmi daerah.
Dari Halaman Museum Menjadi Kirab Kota
Untuk HUT ke-80 dan ke-81 RI (2025-2026), gebyar tidak lagi hanya menancapkan bendera.
Puncaknya adalah Kirab Bendera Merah Putih. Ribuan peserta berjalan dari Tugu 0 Kilometer Taman Kota Kuningan menuju Gedung Naskah Linggarjati, dikawal ratusan motor komunitas, dimeriahkan dengan drum band, dan tari kolosal Saka Pariwisata.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyebutnya sebagai simbol semangat kebangsaan dan gotong royong.
“Warna merah dan putih yang kita junjung hari ini adalah warisan perjuangan, simbol keberanian dan kesucian yang harus terus kita jaga, rawat, dan wariskan kepada generasi penerus bangsa,” katanya dalam upacara di halaman gedung bersejarah tersebut.
Panitia PHBN Pemkab Kuningan kini bekerja sama dengan Yayasan Jiwa Merah Putih. Sumbangan bendera mengalir dari Pemkab hingga donasi warga. Bendera disusun membentuk formasi raksasa bertuliskan NKRI dan angka usia kemerdekaan — tahun ini 81.
JI: Apa harapan Bu Henny untuk tahun ini?
“Kami memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berpartisipasi. Bisa berdonasi bendera, bambu, atau tenaga. Karena Gedung Perundingan Linggarjati bukan hanya milik Kuningan. Ini adalah tempat kita belajar bahwa kemerdekaan tidak hanya direbut dengan senjata, tetapi juga dipertahankan dengan diplomasi dan persatuan.”
“Selama Merah Putih masih berkibar di Linggarjati, selama itu pula kami akan mengingatkan anak cucu: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.”
Hingga 31 Agustus nanti, 10.001 bendera itu akan tetap di sana. Berdesir di kaki Ciremai, menunggu generasi berikutnya datang dan bertanya, mengapa ia harus terus dikibarkan. ***Dirgahayu RI ke-81 dan Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528. (Redaksi)

