Kuningan – Kuatnya produksi hortikultura sepanjang Januari hingga November 2025 sebagai penyangga utama dalam menjaga kecukupan pasokan sekaligus meredam potensi gejolak harga pangan di tingkat konsumen, menjadi dasar Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam memastikan kondisi ketahanan pangan daerah Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 berada dalam situasi aman.
Dijelaskan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, bahwa kinerja sektor pertanian, khususnya komoditas sayuran, menunjukkan perkembangan positif dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi pada mayoritas komoditas strategis menjadi indikator terjaganya keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.
“Produksi sayuran di Kabupaten Kuningan relatif terjaga. Ini menjadi faktor penting dalam menghadapi peningkatan konsumsi masyarakat pada momen Nataru,” jelas Wahyu.
Data Diskatan Kuningan mencatat, hingga November 2025 produksi cabai rawit mencapai 995 ton, meningkat dari 928 ton pada tahun 2024. Kenaikan juga terjadi pada cabai keriting yang tercatat 227 ton, dibandingkan 140 ton pada tahun sebelumnya. Komoditas tomat menunjukkan lonjakan produksi dari 518 ton menjadi 795 ton, sementara kentang meningkat dari 116 ton menjadi 338 ton.
Selain itu, produksi kubis naik dari 1.527 ton menjadi 2.043 ton, wortel dari 207 ton menjadi 285 ton, kembang kol dari 73 ton menjadi 90 ton, serta sawi dari 2.312 ton menjadi 2.503 ton.
Penguatan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luasan lahan tanam di sejumlah komoditas. Cabai rawit mengalami perluasan dari 109 hektare menjadi 163 hektare, cabai keriting dari 32 hektare menjadi 43 hektare, tomat dari 48 hektare menjadi 64 hektare, wortel dari 11 hektare menjadi 15 hektare, serta sawi dari 139 hektare menjadi 148 hektare.
Menurut Wahyu, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya penguatan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah daerah, salah satunya melalui program Tanam di Halaman Mitra Sinergi Jaga Inflasi (Taman Masagi). Program ini mendorong optimalisasi pekarangan sebagai sumber pangan sekaligus instrumen pengendalian inflasi.
“Melalui Taman Masagi, kami menyalurkan bibit, polybag, dan pupuk ke seluruh desa. Program ini efektif menambah pasokan sayuran, terutama komoditas yang harganya rentan berfluktuasi,” ujarnya.
Peran aktif masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT), juga menjadi faktor pendorong peningkatan produksi cabai. Tingginya harga cabai yang kerap terjadi setiap tahun mendorong KWT untuk melakukan penanaman mandiri, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk mendukung ketersediaan pasar lokal.
Di sisi lain, Diskatan Kuningan mencatat adanya penurunan produksi pada beberapa komoditas tertentu. Produksi bawang daun pada tahun 2025 tercatat 2.790 ton, menurun dibandingkan 3.935 ton pada tahun 2024. Sementara produksi bawang merah turun dari 3.761 ton menjadi 2.543 ton.
Penurunan tersebut, kata Wahyu, dipengaruhi oleh kondisi iklim kemarau basah yang terjadi sepanjang tahun 2025. Curah hujan yang relatif tinggi berdampak pada meningkatnya serangan penyakit tanaman, terutama pada bawang daun dan bawang merah yang sensitif terhadap kelembapan.
“Karakter bawang membutuhkan kondisi tertentu. Saat curah hujan tinggi, produktivitasnya cenderung menurun,” katanya.
Sementara itu, hasil pemantauan harga pangan tingkat konsumen di Kabupaten Kuningan per 16 Desember 2025, yang selalu up datesetiap hari di website Diskatan menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Harga beras premium berada di kisaran Rp14.000–14.500 per kilogram, beras medium Rp13.000–13.500 per kilogram, dan beras SPHP sekitar Rp12.000 per kilogram.
Untuk komoditas hortikultura, harga bawang merah berada pada kisaran Rp45.000–50.000 per kilogram, bawang putih Rp38.000–40.000 per kilogram, cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing Rp55.000–60.000 per kilogram, serta cabai rawit merah Rp80.000–85.000 per kilogram. Harga tomat terpantau stabil di kisaran Rp10.000 per kilogram.
Komoditas pangan lainnya, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng kemasan, juga berada pada kisaran harga normal dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan menjelang Nataru.
Wahyu menegaskan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan secara rutin melakukan pemantauan produksi dan harga pangan setiap hari, sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di Kabupaten Kuningan, tidak hanya pada saat momen HBKN saja.
“Melalui monitoring harian harga pangan, penguatan koordinasi distribusi, serta dukungan terhadap petani lokal, kami optimistis kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Kuningan dapat terpenuhi dengan baik dan stabilitas harga tetap terjaga,” tandasnya. (redaksi)

