Oleh: Dadang Cunandar, S.Pd., M.Pd. (Dosen STKIP Pancakarya)
Mitos, dalam pandangan Claude Lévi-Strauss, bukan sekadar cerita yang disampaikan dari generasi ke generasi, melainkan merupakan fenomena kebahasaan yang memiliki struktur dan tata bahasa tersendiri. Berbeda dengan gejala kebahasaan yang dipelajari oleh para ahli linguistik yang lebih fokus pada aspek fonetik dan sintaksis, Lévi-Strauss menyoroti dimensi kultural dan struktural dari mitos. Dalam analisisnya, ia menemukan bahwa mitos memiliki unit-unit terkecil yang disebut mytheme. Mytheme ini berfungsi sebagai blok bangunan dalam suatu narasi mitis, dan memahami mytheme adalah kunci untuk memahami keseluruhan makna yang terkandung dalam mitos tersebut.
Mytheme, menurut Lévi-Strauss, adalah unsur-unsur dalam konstruksi wacana mitis yang bersifat kosokbali, relatif, dan negatif. Konsep ini menekankan bahwa setiap mytheme tidak dapat dipahami secara terpisah, melainkan harus dilihat dalam konteks relasi dengan mytheme lainnya. Misalnya, dalam mitos penciptaan, kita dapat menemukan mytheme yang menggambarkan penciptaan langit dan bumi, yang kemudian diikuti oleh mytheme yang menggambarkan penciptaan manusia. Hubungan antara mytheme ini menciptakan struktur naratif yang kompleks, di mana setiap elemen saling berinteraksi dan memberikan makna baru. Dalam konteks ini, makna dari kata-kata yang ada dalam cerita harus dipisahkan dari makna mytheme, yang juga berupa kalimat atau rangkaian kata-kata dalam cerita tersebut. Ini menunjukkan pentingnya analisis struktural dalam memahami mitos.
Unit-unit yang dinamakan mytheme merupakan unit terkecil dari cerita. Mytheme dapat berfungsi sebagai perantara makna dari cerita yang umumnya berisi tentang tindakan dan peristiwa oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Misalnya, dalam mitos tentang dewa yang bertarung melawan monster, setiap mytheme dapat menggambarkan tindakan spesifik, seperti “dewa mengangkat senjata” atau “monster mengeluarkan teriakan”. Masing-masing mytheme ini menyumbang pada pemahaman keseluruhan tentang konflik dan resolusi dalam mitos tersebut. Makna yang diperoleh dari mytheme tersebut dapat berupa tanda yang mempunyai nilai dalam konteks tertentu.
Konteks yang bermakna dalam mytheme dapat dinilai dari segi latar belakang kehidupan sosial, hubungan sosial, dan nilai-nilai kebudayaan. Dalam masyarakat tertentu, misalnya, mytheme yang menggambarkan pengorbanan seorang pahlawan mungkin memiliki makna yang sangat dalam dan dihormati, karena mencerminkan nilai-nilai keberanian dan pengorbanan yang dipegang teguh oleh masyarakat tersebut. Sebaliknya, dalam konteks yang berbeda, mytheme yang sama mungkin tidak memiliki resonansi yang sama. Dengan demikian, nilai bermakna mytheme dapat memunculkan tokoh-tokoh penting dalam mitos yang akhirnya mempunyai kedudukan sakral, penting, dihormati, serta diyakini keberadaannya oleh masyarakat pemilik mitos. Tokoh-tokoh ini sering kali menjadi simbol dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai acuan dalam perilaku sosial.
Melalui analisis yang mendalam terhadap mytheme, kita dapat melihat bagaimana mitos berfungsi tidak hanya sebagai cerita, tetapi juga sebagai cermin dari nilai-nilai budaya dan struktur sosial masyarakat. Mitos memungkinkan kita untuk memahami cara masyarakat berpikir dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Dengan mengidentifikasi mytheme, kita dapat menggali lebih dalam tentang bagaimana masyarakat tersebut membentuk identitas mereka dan bagaimana mereka menjelaskan fenomena yang terjadi dalam kehidupan mereka.
Kesimpulannya, pemahaman terhadap mitos sebagai fenomena kebahasaan yang kompleks, terutama melalui konsep mytheme yang diusulkan oleh Lévi-Strauss, memungkinkan kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar cerita. Mitos tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk memahami nilai-nilai kultural dan sosial yang mendasari kehidupan masyarakat. Dengan menganalisis mytheme, kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dan lebih kaya dari setiap mitos, serta memahami posisi tokoh-tokoh dalam mitos yang sering kali mencerminkan nilai-nilai yang dihormati oleh masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus menggali dan menganalisis mitos sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.
Referensi:
- Lévi-Strauss, Claude. (2016). “Structural Anthropology”. New York: Basic Books.
- Ahimsa-Putra, H. (2013). “Mitos dan Masyarakat: Kajian Strukturalisme Lévi-Strauss”. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
- Segal, Robert A. (2015). “Theorizing about Myth”. New York: University of Massachusetts Press.
- Dundes, Alan. (2017). “The Study of Folklore”. New Jersey: Prentice Hall.

