Kuningan – Tak hanya rasa bangga dan syukur yang terucap dari Hj. Rini Sujiyanti Sardjono atas pencapaian prestasi kedua cucunya, Finza Athariz dan Auriz Azaria pada ajang Olimpiade Matematika tingkat internasional, Nextgen Mathematic Olympiad Global Round 2026 di Sydney, Australia. Tetapi kiat sukses merekapun dibeberkan oleh istri dari dr. H. Sardjono (Alm), mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan itu.
Dan dari rasa haru karena cucunya mampu berkiprah sekaligus tampil sebagai pemenang dalam event bertarap internasional dengan pesaing yang datang dari berbagai negara di belahan dunia, serta tentunya bukan cuma diperlukan skill khusus di bidang yang dilombakan, tetapi juga kemampuan dalam penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris itu melahirkan harapan dari Hj. Rini, agar pencapaian sang cucu menjadi sumbu motivasi bagi para pelajar lainnya di Kabupaten Kuningan.
“Saya sangat berharap apa yang telah diraih kedua cucu saya ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak pelajar di Kabupaten Kuningan,” ucap Hj. Rini.
Untuk merealisasikan harapannya, Hj. Rini-pun tak segan-segan mengungkapkan kiat sukses sang cucu yang merupakan anak dari pasangan dr. Giri Satriya, Sp.PD, FINASIM dan dr. Citra Estetika, Sp.A itu, dengan dimulai dari kata kunci “Jangan Takut” dan “Harus Belajar”.
Lalu Hj. Rini memaparkan, berawal dari penanaman disiplin dalam meminimalisir pemakaian gadget diimbangi dengan upaya peningkatan minat baca. Karena dilihat dari dampak, terlalu banyaknya memakai gadget akan mengurangi daya baca anak-anak.
“Dan jika dilihat dari segi manfaat, jauh lebih besar manfaat membaca ketimbang bermain gadget. Kita semua pasti paham, membaca memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental dan kognitif, termasuk menstimulasi fungsi otak, mengurangi stres, memperluas wawasan, dan meningkatkan fokus,” ungkap Hj. Rini.
Sejalan dengan itu, kata Hj. Rini, untuk lebih memperluas wawasan dan pengetahuan, serta melengkapi sistem pendidikan formal, anak juga mengikuti pendidikan nonformal, di mana kedua cucunya tersebut mengikuti les yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.
“Untuk kegiatan les, kedua cucu saya ini cari sendiri, sehingga mereka merasa enjoy. Meski yang di SD harus berangkat sekolah jam 7 pagi, yang SMP jam 6 pagi, siang, sore, atau malamnya mereka memanfaatkan waktu dengan mengikuti les, tapi tidak ada keterpaksaan, mereka melakukannya dengan semangat dan gembira,” katanya.
Namun begitu, untuk lebih menghadirkan motivasi juga rasa gembira di hati kedua cucunya, taktik pun dijalankan, di antaranya dengan cara pemberian poin atau penilaian sebagai sarana pemberian tambahan waktu mempergunakan gadget saat berada di rumah, yang biasanya hanya 30 menit pada hari Sabtu dan Minggu bisa ditambah 2 menit bila memiliki prestasi baru.
“Kalau mereka punya prestasi, misalnya dari sholat, membaca Al-Qur’an, olahraga, atau prestasi lainnya, maka mereka akan mendapatkan tambahan dua poin dari 30 menit setiap hari Sabtu atau Minggu. Dan ini efektif bagi kedua cucu saya dalam meningkatkan semangat mengejar prestasi demi prestasi,” katanya.
Di akhir penuturannya, sekali lagi Hj. Rini menekankan, bahwa menghindari terlalu banyaknya penggunaan gadget akan lebih meningkatkan cinta membaca pada anak anak. Dengan banyak membaca, akan lebih memperluas wawasan dan pengetahuan.
“Luasnya wawasan dan pengetahuan ditambah dengan keberanian melangkah, Insya Allah hasilnya adalah pencapaian prestasi,” tutur Hj. Rini. (Yud’s)

