KUNINGAN, JURNALINFORMASI.Com – Bunyi kentongan menggema di Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Pemukulan kentongan oleh Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. itu menjadi penanda diresmikannya Program Kampung Tanggap Bencana (KATANA) secara nasional, Kamis (6/8/2026).
Program yang digagas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI ini dirancang untuk membangun ketangguhan masyarakat di tingkat desa dalam menghadapi ancaman bencana, tidak hanya lewat peralatan, tetapi melalui penguatan kapasitas warga dan relawan.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan, kesiapsiagaan adalah kunci menekan risiko bencana di daerah rawan seperti Kuningan.
“Ketangguhan sebuah desa tidak hanya diukur dari kelengkapan peralatan, melainkan dari kesadaran dan kesiapan masyarakat. Kita berprinsip bahwa korban bencana dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki kesadaran, kekompakan, serta kolaborasi yang baik. Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui kesiapsiagaan,” ujar Dian dalam sambutannya.
Menurutnya, Kabupaten Kuningan memiliki keragaman ancaman bencana yang tinggi. Mulai dari tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga banjir yang mulai muncul di wilayah timur saat musim hujan.
Menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga November-Desember 2026, Pemkab Kuningan bersama BPBD, TNI-Polri, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Perhutani, dan perangkat daerah terkait telah menyiapkan langkah antisipasi kekeringan dan karhutla.
Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan, H. Yusron Kholid, M.S.I., menjelaskan KATANA di Sangkanerang telah berlangsung intensif sejak 28 Juli 2026 selama hampir 10 hari.
Warga tidak hanya mendapat sosialisasi, tetapi juga praktik langsung: edukasi kebencanaan, pelatihan kesiapsiagaan, penyusunan jalur evakuasi dan titik kumpul, hingga simulasi penanganan darurat.
“Kami berharap Kampung Tanggap Bencana tidak berhenti sebagai program semata, tetapi terus berlanjut menjadi budaya masyarakat. Relawan harus menjadi motor penggerak kesiapsiagaan sekaligus menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Kuningan,” kata Yusron.
Ia mengapresiasi kolaborasi BPBD Kuningan, Pemerintah Kecamatan Jalaksana, dan Pemerintah Desa Sangkanerang. Menurutnya, program ini menjadi bukti bahwa optimalisasi zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memperkuat resiliensi bencana.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Sangkanerang, Ahmad Suteja. Ia menyebut semangat gotong royong warga semakin menguat seiring pengelolaan dana umat dan operasional mobil siaga desa yang aktif melayani warga.
Sementara, Ketua BAZNAS Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Anang Jauharuddin, M.M.Pd., menegaskan KATANA berjalan beriringan dengan Program Madrasah Aman Tanggap Bencana (MANTAP). Keberhasilannya, kata dia, mutlak membutuhkan kolaborasi pentahelix.
“Jawa Barat memiliki alam yang sangat indah, tetapi di balik keindahan itu tersimpan ancaman bencana yang besar. Karena itu kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting,” ujar Anang.
BAZNAS Jabar, lanjutnya, siap memberikan dukungan lanjutan sesuai kebutuhan daerah, baik sarana kebencanaan maupun program kemanusiaan lainnya.
Bupati Dian juga memberikan apresiasi khusus atas peran BAZNAS sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Selama ini, BAZNAS aktif mendukung rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan kemanusiaan bagi warga kurang mampu, hingga penanganan warga yang luput dari program pemerintah.
“BAZNAS telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam membantu masyarakat. Sinergi seperti ini harus terus diperkuat agar semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya,” pungkas Dian.
Peresmian ditandai secara simbolis dengan pemukulan kentongan bersama jajaran BAZNAS RI, BAZNAS Jabar, BAZNAS Kuningan, Forkopimcam Jalaksana, Kalak BPBD Kuningan, dan Pemerintah Desa Sangkanerang.
Seusai seremoni, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan bencana letusan gunung api dan gempa bumi yang melibatkan relawan, aparat desa, BPBD, dan masyarakat. Simulasi berlangsung tertib dan realistis, mulai dari prosedur evakuasi, penyelamatan korban, hingga penanganan darurat sesuai SOP. (Redaksi)

