Kuningan – Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik dan mengejar gelar, tetapi juga harus mampu menjadi pemecah masalah di tengah masyarakat.
Semangat itu yang coba dibangun Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Kuningan (Himdikmat UM Kuningan).
Ketua Umum Himdikmat UM Kuningan periode 2026-2027, Rafli, menegaskan bahwa organisasinya mendorong seluruh anggota untuk terbiasa menghadapi persoalan secara nyata, bukan hanya lewat teori di kelas.
Menurutnya, metode yang digunakan adalah dengan mengedepankan budaya diskusi kritis dan aksi turun langsung ke lapangan, salah satunya melalui program Pengabdian kepada Masyarakat.
“Kami membiasakan kultur kekeluargaan dan belajar bersama. Ini menunjukkan bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkumpul biasa, melainkan ruang kolaborasi dan ruang tumbuh bersama bagi mahasiswa,” ujar Rafli, Sabtu (1/8/2026).
Rafli menilai, soft skill adalah kebutuhan mutlak yang tidak sepenuhnya bisa didapatkan di bangku kuliah. Organisasi kemahasiswaan menjadi kawah candradimuka untuk menempa kemampuan tersebut.
“Setelah lulus dan menghadapi dunia kerja, mahasiswa akan dituntut memiliki soft skill. Contoh paling nyata adalah kemampuan problem solving atau penyelesaian masalah,” katanya.
Lebih jauh, ia menambahkan, di tengah arus globalisasi yang begitu cepat, mahasiswa yang aktif berorganisasi akan memiliki keunggulan adaptif.
Selain problem solving, mereka juga terlatih untuk berani berinovasi, berkomunikasi, dan memimpin.
“Belajar berinovasi tanpa takut disalahkan adalah salah satu manifestasi terbaik dari berorganisasi. Jika harus diberi nama, organisasi adalah laboratorium. Tempat paling tepat untuk bereksperimen dan mencoba hal-hal baru sebelum terjun ke masyarakat yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Ade Muis)

