Kuningan – Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat penuhi janji dengan senyap, untuk datang melihat langsung kondisi lereng Gunung Ciremai yang dilaporkan tengah digerogoti kerusakan, dan berakibat merugikan masyarakat, mulai pemanfaatan air yang kurang berpihak pada warga sekitar, bahkan tidak sedikit bersifat ilegal, hingga alih fungsi hutan secara ugal-ugalan.
Inspeksi mendadak (Sidak) ke tambang galian di lereng Ciremai sisi utara, atau tepatnya di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan menjadi langkah perdana dalam lawatannya ke Kabupaten Kuningan, pada Kamis pagi (15/1/2026).
Dari kegeraman yang memuncak saat menyaksikan langsung hutan sudah cacat, pepohonan mulai sirna berganti struktur tanah ambrol dikuras membentuk dinding tebing hancur menjulang di punggung atap Jawa Barat, KDM meluapkan kekecewaanya dengan memberikan pemahaman dampak kerusakan hutan, bencana yang mengintai tatanan kehidupan, ancaman hukum untuk penyebab kerusakan alam, hingga penegasan menutup tambang, namun dengan kompensasi mengganti lahan pekerjaan baru bagi masyarakat yang bekerja di galian C tersebut.
“Galian ini harus ditutup. Saya tidak akan pandang bulu untuk melakukan tindakan terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran, baik rakyat kecil, ataupun orang besar,” tegasnya.
Cerita ironispun sempat terucap dari warga penambang yang dibuat kaget dengan kedatangan KDM secara diam-diam, bahkan diantaranya ada yang lari dan sembunyi, bahwa lokasi galian itu pernah ditutup oleh aparat kepolisian, tetapi masyarakat keukeuh melakukan aktivitas pengerukan kembali, karena tuntutan ekonomi, demi kelangsungan hidup.
“Sekarang kalau terus meneruskan galian ini, jalan yang sudah dibangun menjadi rusak, akan berakibat bencana longsor. Nah jika terjadi longsor menimpa bapak-bapak, apakah pemilik tambang bertanggung jawab, akan mengganti asuransi Rp 500 juta pada bapak-bapak? Tidak kan,” ujar KDM.

KDM mengungkapkan, jika hanya berpikir untuk diri sendiri, dia tidak perlu kesana kemari mengurus rakyat, karena cukup diam di kantor saja gaji yang didapat sudah bisa mencukupi kehidupan dirinya. Namun, karena merasa sangat cinta rakyat, dia rela mengorbankan waktu, tenaga dan fikiran agar tidak ada rakyat yang menderita, agar selamat dari bencana, hingga warga Jabar sejahtera.
“Aing rek mere solusi, da rakyat aing ge kudu nyatu. Mangkanya, mengingat tambang ini harus ditutup, karena berbahaya, mengancam lingkungan, bisa mengakibatkan bencana longsor. Saya memberikan solusi, para penambang alih kerja dari merusak alam menjadi melestarikan alam dengan pekerjaan menanam pohon di area hutan Ciremai yang gundul, dan akan digaji Rp 1,5 juta per-bulan,” ungkap KDM. (Yud’s)

