Bandung – Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan, dirinya sangat tidak setuju dengan dibukanya ruang-ruang usaha komersial di wilayah kawasan Gunung Ciremai oleh pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Hal itu diungkapkan KDM usai menerima laporan dari Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, di Gedung Sate, Sabtu (10/1/2026). Seputar kehadiran aksi moral Aliansi Masyarakat Kuningan (Alamku) bertajuk ‘Mapag Bapa Aing’, dan menuntut pemerintah provinsi untuk segera menindak atas pengambilan air illegal dari mata air, serta alih fungsi hutan di kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan.
“Ya harusnya mereka ngasih contoh. Kementrian Kehutanan, termasuk TNGC itu tugasnya menjaga hutan, sebagai cagar alam, bukan membuat ruang usaha di kawasan hutan. Hutan bukan tempat usaha,” tandasnya.
Yang membuat KDM lebih meradang saat dirinya menerima laporan, bahwa terdapat 15 kegiatan usaha di Kawasan TNGC, baik yang berupa resto, maupun usaha wisata lainnya. Bahkan, diantaranya ada yang masih bersifat ilegal, belum berizin.
“Walaupun itu kewenangan dia, tetapi justeru itu menimbulkan kegelisahan bagi warga dan ancaman bagi alam, ya kita hadapi saja, karena adanya di kita. Lho orang petingginya TNGC kalau terjadi banjir dia tidak terdampak, kalau kejadian longsor dia gak kebagian, karena diamnya di Jakarta. Yang akan merasakan kerugian masyarakat di sekitar kawasan Gunung Ciremai, di Kuningan, di Majalengka, di Jawa Barat,” ucap KDM.
KDM berjanji, akan segera mengirimkan surat protes ke Kemetrian Kehutanan, agar alih fungsi hutan, terutama usaha komersial di wilayah kawasan Gunung Ciremai dihentikan. Apalagi dirinya mengetahui, terdapat kegiatan penanaman Kelapa Sawit juga di Kuningan.
“Beneran gak ngerti, makanya hutan itu jangan dijaga oleh aparat, oleh petugas, cukup ku kelong wewe, ku genderewo, ku kunti, udah selesai. Kalau kunti mah tidak akan membuat kawasan wisata di kawasan hutan,” canda KDM, namun tegas.
Menyikapi kehadiran aksi Alamku di Halaman Gedung Sate, Selasa (6/1/2026). KDM mengaku senang, karena itu artinya Gen Z sangat konsen terhadap lingkungan, dan berani mengkoreksi seluruh kesalahan yang dilakukan orang tuanya, oleh kakeknya, oleh buyutnya.
“Ya udah nanti, minggu depan sepulang dari Sumut kita kesana,” ungkap KDM. (Yud’s)

