Kuningan – Hangatnya bursa calon Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menjadi fenomena tersendiri bagi dunia olahraga Kabupaten Kuningan, apalagi dari 5 calon yang resmi mendaftar ke panitia penjaringan tercatat tidak hanya dari kalangan olahraga semata, tetapi juga datang dari unsur politisi hingga pengusaha.
Menurut penggiat olahraga Kuningan Iskandar, hal ini sangat bagus, karena dirinya memandang orang-orang berlomba-lomba ingin memajukan olahraga, seraya berharap akan menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan olahraga Kabupaten Kuningan dimasa yang akan datang.
Namun, kata pria yang juga sempat menduduki posisi Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) pada KONI Kabupaten Kuningan itu, ada hal yang perlu diperhatikan, bahwa pembinaan atlet olahraga tidak semudah membalikan telapak tangan.
“Membutuhkan suatu proses yang cukup panjang, dan ketika proses itu dilaksanakan ada beberapa konsekwensi yang perlu diperhatikan, seperti pemikiran, waktu latihan, dan tentunya sumber pendanaan,” kata Iskandar.
Iskandar menjabarkan, pendanaan itu penting, diantaranya untuk pemenuhan makanan, gizi, serta obat-obatan para atlet. Dimana hal-hal tersebut merupakan konsekwensi yang harus terpenuhi ketika proses latihan dilaksanakan.
“Dan menyikapi hal tersebut, tentunya KONI Kuningan memerlukan figur yang mengetahui, serta memahami tentang proses pembinaan ini, karena sangat jauh berbeda antara pembibitan, pembinaan para atlet dengan pembinaan atau pembibitan kader partai,” ujarnya.
Ketua KONI juga, sambung Iskandar, idealnya dia yang memahami tahapan-tahapan proses pembentukan atlet menjadi profesional. Mulai tahapan atlet usia dini, atlet remaja, atlet pra-profesional, hingga tingkat profesional.
“Pembinaan itu hanya ada di cabang-cabang olahraga sesuai dengan induk organisasinya, dan tentunya disinilah perlunya terjun langsung. Apalagi saat pembinaan berjalan, semua unsur harus turut memperhatikan, karena tanpa adanya unsur-unsur lain, kasihan pada para atlet,” ucapnya.
Sehingga, Iskandar memandang, Ketua KONI harus bisa bersinergi dengan semua unsur. Mulai dari unsur medis, yang sangat berperan dalam memperhatikan gizi para atlet ketika proses pertumbuhan dan perkembangan otot.
Kemudian, dengan unsur pemerintah daerah. Karena ketika para atlet sudah memiliki prestasi, itu tak hanya menjadi kebanggaan Pengcab, atau KONI semata, tetapi tentunya kebanggan pemerintah daerah.
“Memang, mau tidak mau pihak pemerintah harus ikut andil dalam memperhatikan perkembangan dunia olahraga, dan ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2022,” jelas Iskandar.
Diperinci Iskandar, ada beberapa pasal yang memang mewajibkan peran serta pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah. Sehingga kebersamaan organisasi KONI dengan unsur pemerintah daerah memang sebuah keharusan.
Diakhir kalimatnya Iskandar menegaskan, siapapun nanti yang terpilih menjadi Ketua KONI harus berani berkorban, baik waktu, tenaga, fikiran, hingga materi. Juga, mampu menitik beratkan perhatian pada pembinaan atlet, karena tanpa pembinaan mustahil olahraga akan bisa maju dan berkembang.
“Sekarang sedang berlomba-lomba untuk menuju singgasana Ketua Umum KONI Kuningan, maka inilah yang harus diperhatikan. Dan ini bukan pada saat pelaksanaan pemilihan Ketua KONI tapi paska terpilihnya Ketua KONI, pola pembinaannya harus mempunyai jenjang yang berkelanjutan. Artinya, ulah obor baralakeun, tapi pembinaan atlet di Kabupaten Kuningan tetap berkembang dan berkelanjutan,” tandasnya. (Yud’s)

