KUNINGAN, JURNALINFORMASI.COM – Gelaran budaya dan olahraga tahunan Desa Suganangan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, kembali bergulir. Bertajuk “Nyimas Lenggangherang Jilid 5: Sport n’ Ethno Carnaval”, festival ini resmi dibuka Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. di Stadion Rana Diraksa, Kamis (10/9/2026).
Memasuki tahun kelima, Nyimas Lenggangherang tahun ini mengusung subtema “Lebih Klasik, Lebih Spektakuler”. Panitia menyuguhkan rangkaian agenda kolosal yang memadukan tiga kekuatan utama: pelestarian kearifan lokal, pembudayaan hidup sehat, dan penguatan spiritualitas masyarakat.
Sejumlah agenda unggulan disiapkan, mulai dari karnaval etnik kolosal yang menampilkan kekayaan busana adat Sunda, jalan santai bersama warga, Senam Kuningan Melesat, hingga tabligh akbar sebagai penutup syukur.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi Pemerintah Desa Suganangan dan seluruh panitia yang mampu mempertahankan gelaran ini secara berkelanjutan.
Menurutnya, Nyimas Lenggangherang bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bukti nyata komitmen warga dalam merawat tradisi dengan kemasan yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Sesuai subtema yang diusung, kegiatan hari ini membuktikan bahwa budaya tradisional Sunda tidak pernah redup oleh zaman,” ujar Bupati Dian dalam sambutannya.
Bupati Dian juga menekankan filosofi mendalam yang menjadi ruh dari setiap syukuran panen di Tatar Pasundan. Ia mengutip pesan karuhun Sunda untuk mengingatkan esensi helatan budaya tersebut.
“Sedekah panen lain ngan ukur tradisi, ieu teh pangeling-ngeling kana silih tulungan, silih ajenan, jeung silih bagikeun,” ucapnya.
Ia menjelaskan, pesan tersebut bermakna bahwa sedekah panen bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat untuk saling tolong-menolong, saling menghormati, dan saling berbagi.
“Pesan ini mengingatkan kita bahwa esensi dari setiap syukuran dan gelaran budaya adalah merawat kebersamaan. Budaya jangan hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu untuk ditonton, tetapi pegangan hidup untuk dijalani,” jelasnya.
Nilai-nilai luhur Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh dinilainya menjadi fondasi penting untuk membangun Kabupaten Kuningan yang maju tanpa tercerabut dari jati diri dan akar sejarahnya.
Bupati Dian berharap, momentum Nyimas Lenggangherang Jilid 5 mampu menjadi penggerak tiga hal sekaligus: memperkuat semangat gotong royong dan silaturahmi antarwarga, melestarikan seni-budaya Sunda secara berkelanjutan, serta mengakselerasi potensi ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis desa di Kabupaten Kuningan. (Redaksi)

