Hampang Birit: Kisah Emod Petani Kuningan Penghasilan Rp325 Ribu yang Bikin Kagum Dedi Mulyadi
KUNINGAN, JURNALINFORMASI.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menunjukkan kedekatannya dengan rakyat kecil. Di sela kunjungan kerjanya ke Kabupaten Kuningan dalam rangka Hari Jadi ke-528 kabupaten yang dipimpin Bupati H. Dian Rachmat Yanuar itu, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyempatkan diri menemui warga di sekitar Obyek Wisata Cibulan.
KDM bertemu dengan pasangan petani penggarap, Emod dan istrinya, warga Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Selasa (1/9/2026). Dan pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam bagi Gubernur.
Meski hanya bekerja sebagai petani penggarap, Emod dinilai sebagai sosok pekerja keras yang menginspirasi. Dengan penghasilan pas-pasan, ia tak hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai dua anaknya yang masih sekolah, tetapi juga mampu merawat rumah warisan keluarganya hingga terlihat layak dan terawat.
Kisah itu membuat KDM tergerak memberikan bantuan.
Diketahui, Emod menggarap lahan sawah sewaan seluas 200 bata atau sekitar 2.800 meter persegi dengan biaya sewa Rp3 juta per tahun. Dari hasil bertani tersebut, penghasilan bersih yang ia bawa pulang hanya sekitar Rp325 ribu per bulan.
Untuk menutupi kekurangan, Emod tidak gengsi melakukan pekerjaan apa pun yang halal. Sehari-hari ia juga bekerja sebagai kuli cangkul dengan upah Rp70 ribu hingga waktu duhur.
“Alasannya sederhana, Emod itu hampang birit, mau bekerja keras. Melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal selain menggarap sawah. Tidak menjadikan penghasilan kecil sebagai alasan untuk bermalas-malasan,” ujar KDM saat berbincang dengan Emod.
Atas kegigihan itu, KDM memberikan bantuan uang tunai untuk membebaskan biaya sewa lahan sawah Emod selama 3 tahun ke depan.
Kepedulian KDM tidak berhenti di situ. Saat melintas di bagian dapur rumah Emod, KDM melihat sebuah sepeda motor rusak yang terparkir. Motor tersebut diketahui milik anak Emod.
KDM pun langsung memberikan bantuan sebesar Rp1 juta untuk biaya perbaikan motor tersebut.
Tak hanya itu, KDM juga meminta nomor telepon putri Emod yang merupakan lulusan SMAN Jalaksana namun belum mendapatkan pekerjaan. Saat ditawari bekerja di perusahaan garmen di Indramayu, Emod mengaku keberatan karena jarak yang terlalu jauh untuk anak perempuannya.
KDM berjanji akan membantu mencarikan pekerjaan yang lebih dekat.
“Nanti saya hubungkan dengan perusahaan yang ada di Kabupaten Kuningan saja, biar dekat dengan orang tua,” kata KDM.
Kisah Emod menjadi potret keteladanan di tengah keterbatasan. Bahwa kemapanan tidak selalu diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari kemauan untuk bekerja keras dan tidak menyerah pada keadaan. (Redaksi)

