Dari ajaran Sanghyang Dharma di Saunggalah, pusaran kekuasaan Pajajaran, sampai pelantikan Pangeran Kuningan yang menjadi Hari Jadi. Inilah benang merah sejarah Kabupaten Kuningan.
FEATURE, JURNALINFORMASI.COM – Jika Jawa Barat punya jantung sejarah, salah satunya berdenyut di kaki Gunung Ciremai. Kabupaten Kuningan tidak lahir dari babad kemarin sore. Jejak permukimannya ditelusuri hingga 3.500 tahun sebelum Masehi, dengan tingkat kebudayaan yang sudah relatif maju berdasarkan temuan arkeologis.
Namun sebagai kekuatan politik yang berdaulat seperti sebuah negara, Kuningan baru tercatat jelas dalam naskah kuno Carita Parahyangan.
1. Negara Kuningan Pertama: 11 April 732 M
Dalam Carita Parahyangan disebutkan, sebuah pemukiman bernama Kuningan mewujud menjadi negara pada tanggal 11 April 732 M. Itu terjadi setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai raja.
Seuweukarma kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku, bersemayam di Arile dan Saunggalah. Ia menganut ajaran Dangiang Kuning yang berpegang pada Sanghyang Dharma (Kitab Suci) dan Sanghyang Siksa – sepuluh pedoman hidup:
“Tidak membunuh makhluk hidup, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, tidak mabuk, tidak makan bukan pada waktunya, tidak menonton-menari-menyanyi-bermusik, tidak mewah dalam berbusana, tidak tidur di tempat empuk, tidak menerima emas dan perak.”
Di bawah Seuweukarma, Kuningan hidup aman, tentram, dan ekspansinya bahkan menyeberang sampai ke Negeri Melayu. Ia bertahta hingga usia sangat lama, sebelum akhirnya bersaing dengan Sanjaya dari Galuh Timur.
Setelah Sanjaya memerintah Kuningan 9 tahun, kekuasaan dilanjutkan putranya Rahiyang Tamperan, yang memiliki dua putra: Sang Manarah dan Rahiyang Banga. Rahiyang Banga inilah yang menguasai kembali Kuningan bekas wilayah Rahiyang Tangkuku.
2. Masa yang Hilang dan Kebangkitan di Era Sunda
Perkembangan Kuningan seakan terputus. Baru pada 22 Juli 1175 Masehi, Kuningan muncul lagi dan bahkan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di bawah Rakean Darmasiksa, putra ke-12 Rahiyang Banga.
Setelah 12 tahun bertahta di Saunggalah, keraton dipindahkan Darmasiksa ke Pakuan Pajajaran. Sejak itu Kuningan menjadi daerah otonom bagian dari Kerajaan Sunda / Pajajaran, dan namanya berganti menjadi Kajene. Dalam bahasa Sunda Kuno, Kajene berarti “kuning” atau “emas”.
Pada masa ini, Cirebon pun pada tahun 1389 masuk ke kekuasaan Pakuan Pajajaran, sebelum kemudian melepaskan diri sebagai kerajaan Islam di abad ke-15.
3. Islam Masuk Lewat Luragung dan Sidapurna
Islam masuk Kuningan bukan tiba-tiba. Seorang ulama besar dari Caruban (Cirebon), Syekh Maulana Akbar, pernah singgah di Buni Haji Luragung lalu melanjutkan ke Kajene yang masih Hindu. Ia mendirikan pesantren di Sidapurna, yang berkembang pesat. Karena pengikutnya banyak, ia membuka permukiman baru berdasar Islam bernama Purwawinangun – artinya mula-mula dibangun. Ia wafat dan dimakamkan di Astana Gede.
4. Sunan Gunung Jati, Putri Cina, dan Bayi yang Akan Jadi Adipati
Tahun 1470 Masehi, datang ke Cirebon ulama besar Syekh Syarif Hidayatullah, putra Syarif Abdullah dan Rara Santang (Syarifah Modaim), murid Sunan Ampel dari Ampeldenta Surabaya. Ia ditugaskan menyebarkan Islam di Jawa Barat.
Pada 1479, pemimpin Cirebon Haji Doel Iman menyerahkan pemerintahan kepada Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Dua tahun kemudian, pada 1481 M, Syarif Hidayatullah bergerak ke selatan, ke Luragung.
Luragung saat itu dipimpin Ki Gedeng Luragung, saudara Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon. Ki Gedeng Luragung masuk Islam.
Di Luragung inilah sejarah Kuningan berbelok. Datanglah Ratu Ontin Nio / Putri Ong Tien dari Cina, istri Syarif Hidayatullah yang sedang hamil. Ia bergelar Ratu Mas Rara Sumanding. Dari pernikahan itu lahir seorang putra tampan dan gagah, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Kuningan.
Versi Perda Kuningan menyebut bayi itu sebagai putra angkat Ki Gedeng Luragung yang diangkat anak oleh Syarif Hidayatullah dan Ong Tien, lalu diberi nama Sang Adipati.
Rombongan kemudian menuju Winduherang, tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan / Aria Kamuning. Karena Aria Kamuning memiliki putra sebaya bernama Amung Gegetuning Ati, bayi Pangeran Kuningan dititipkan untuk disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan. Bayi itu diganti namanya oleh Syarif Hidayatullah menjadi Pangeran Arya Kamuning, sementara Pangeran Kuningan tetap sebagai Sang Adipati.
Syarif Hidayatullah menitipkan amanat: kelak jika dewasa, Pangeran Kuningan akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.
Selama Sang Adipati belum dewasa, Aria Kamuning yang awalnya Hindu lalu masuk Islam, ditunjuk sebagai kepala pemerintahan perwalian di Kajene di bawah Kerajaan Cirebon.
5. Titik Tolak: 1 Muharram / 1 September 1498
Setelah keduanya dewasa, tepatnya pada bulan Muharram tanggal 1 September 1498 Masehi, Sang Adipati dinobatkan menjadi kepala pemerintahan Kajene dengan gelar Sang Adipati Kuningan / Pangeran Arya Adipati Kuningan, dibantu oleh Aria Kamuning.
Sejak penobatan itu, daerah yang semula bernama Kajene dikembalikan ke nama aslinya: KUNINGAN. Tanggal itulah yang oleh Perda No. 21/DP.003/XII/1978 tanggal 14 Desember 1978 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan.
“Dengan berdirinya negara / kerajaan Kuningan di bawah Sang Adipati Kuningan, maka sejak tanggal penobatannya daerah yang semula bernama Kajene dikembalikan lagi ke nama aslinya yaitu Kuningan, dan sejak saat itulah tanggal 1 September ditetapkan sebagai hari jadi Kuningan.”
Dalam menjalankan pemerintahan, Sang Adipati juga dibantu oleh Dipati Ewangga (Dipati Cangkuang) pemilik kuda legendaris Si Windu, dan Rama Jaksa.
Untuk menguatkan dakwah, Sunan Gunung Jati mengirim Syekh Rama Haji Irengan yang menetap di Darma dan membuat kolam keramat yang kini dikenal Balong Kancra / Balong Kramat Darma Loka.
Pasukan Kuningan di bawah Cirebon kemudian turut dalam penaklukan Galuh, membantu berdirinya pemerintahan Wiralodra di Indramayu di bawah Fatahillah, hingga menggempur Sunda Kelapa dan ikut mendirikan Jayakarta. Tak heran, sebagian pasukan Kuningan menetap di Batavia, hingga namanya abadi menjadi Kelurahan Kuningan di Jakarta Selatan.
6. Kuningan dalam Sejarah Republik
Benang sejarah Kuningan tak putus di masa kerajaan. Nama Linggarjati mendunia karena Perundingan Linggarjati 1946. Ketika Yogyakarta diserang Belanda 19 Desember 1948, Jenderal Soedirman memerintahkan pembentukan Markas Besar Komando Djawa. MBKD Jawa Barat dipimpin Letkol R.K. Sukanda Bratamanggala berkedudukan di Desa Subang Kuningan sebagai basis gerilya.
Ciwaru bahkan dijadikan basis pertahanan dan pusat pemerintahan Karesidenan Cirebon. Rakyat dengan ikhlas menyerahkan rumah untuk kantor militer dan staf.
Dari perlawanan ulama besar Eyang Hasan Maolani dari Lengkong yang dibuang ke Gorontalo, hingga perjuangan melawan DI/TII di tahun 1950-an, nilai juang itu terus diwariskan.
Kuningan hari ini adalah akumulasi dari tiga zaman besar: Zaman Hindu (Seuweukarma hingga Aria Kamuning), Zaman Islam (Sang Adipati Kuningan, Geusan Ulun, Dalem Mangkubumi), hingga Zaman Kolonial dan Republik. Dari ajaran sepuluh pedoman Sanghyang Siksa hingga semangat gotong royong membangun masyarakat adil makmur berdasar Pancasila.
Jika 1 September diperingati, yang dirayakan bukan sekadar pelantikan seorang adipati muda. Yang dirayakan adalah kembalinya sebuah nama, sebuah identitas: Kuningan. (Sumber resmi Pemkab Kuningan sesuai Perda No. 21/DP.003/XII/1978). Dirgahayu RI ke-81 dan Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528. (Redaksi)

