Kuningan – Unggahan video kuatnya air bah menerjang ruas jalan sepanjang jalur Palutungan – Cigugur, bahkan dalam tayangan itu tergambar pula pemotor yang tak sanggup menembus derasnya banjir, hingga viral di berbagai platform media sosial, mengundang sorotan tajam dari masyarakat.
Seperti di antaranya Aktivis Masyarakat Peduli Kuningan, Yudi Setiadi, yang menilai bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dianggap sepele, dan mendesak pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Kuningan, serta TNGC segera mengambil langkah mitigasi bencana, sekaligus kajian terhadap kondisi ekologis kekinian kaki Gunung Ciremai yang dinilai sudah kritis.
“Gunung Ciremai sebagai kawasan resapan air utama Ciayumajakuning akan menghadapi tekanan serius akibat anomali cuaca yang ada, di mana tingginya curah hujan ekstrem sampai prediksi kemarau panjang,” ungkap Yudi, Senin (18/5/2026).
Kondisi ini, kata Yudi, diperparah oleh berkurangnya daya resap lahan, terganggunya debit mata air, hingga menurunnya produktivitas pertanian di wilayah lereng gunung. Matinya ikan dewa di kawasan TNGC juga dinilai menjadi indikator rusaknya kualitas ekosistem air.
“Selain itu, temuan BRIN mengenai aktivitas tektonik dan vulkanik purba di kawasan Lingkar Timur Kuningan semakin memperkuat perlunya langkah mitigasi dan pemetaan kerawanan bencana secara ilmiah dan menyeluruh,” katanya.
Yudi menegaskan, jika kerusakan kawasan hulu terus dibiarkan, masyarakat terancam menghadapi krisis air saat kemarau dan potensi banjir bandang, longsor, serta kerusakan lingkungan saat musim hujan.
“Kami berharap pemerintah jangan menunggu bencana besar terjadi, mitigasi ini harus segera dilakukan demi keselamatan lingkungan dan masyarakat, dan segera libatkan seluruh pihak untuk mencari solusi,” tandasnya. (Yud’s)

