Kuningan – Terlepas dari pembicaraan masalah pengusaha kecil yang tergabung dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), atau usaha-usaha kuliner permanen yang berseliweran dipromosikan melalui platform media sosial, sesekali kita menelisik pedagang kecil yang berjalan menelusuri trotoar, emper-emper pertokoan, jalan-jalan perkampungan, hingga halaman rumah penduduk.
Salah satunya usaha kuliner tradisional Nusantara yang menyajikan kombinasi buah segar dengan bumbu khas, dan akrab disebut masyarakat tukang rujak buah. Seperti yang digeluti Diky Wahyudi, pria asal Blok Kiliyen, Desa Sidamulya, Kecamatan Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, yang setiap hari memangkalkan gerobaknya di perlintasan Jalan Siliwangi, Kuningan, depan Panin Bank, atau sebelah utara Toserba Surya.
Mengaku saat ini usahanya tengah mengalami sedikit kelesuan, dengan penyebab selain faktor cuaca, namun yang jelas semakin menjamurnya pesaing yang berdagang sejajar pada pusaran Jalan Siliwangi, diperparah dengan tengah menurunnya kondisi perekonomian masyarakat.
Namun, bukan berarti mengurangi kualitas cita rasa sambal kacang berpadu dengan kesegaran buah yang telah menjadi ciri khas sajian cemilan sehat kaya serat dan vitamin (C, A) sehingga mampu meningkatkan imun, melancarkan pencernaan, dan membantu menurunkan berat badan dari ramuan rujak buah Diky.
Sehingga meski kondisi usahanya dia akui tengah mengalami penurunan omzet, tetapi ternyata minimal rujak buah yang dibanderol seharga Rp. 15 ribu perbungkus itu masih laku terjual sebanyak kurang lebih 70 bungkus perharinya.
“Dulu perhari bisa terjual lebih dari seratus bungkus. Namun setelah dihantam hujan dan faktor lainnya, perhari paling kuat laku 70 bungkus,” ucapnya.
Memang tidak bisa dipungkiri, dulu rujak buah Diky ini seakan tak pernah sepi dari pembeli, bahkan dalam waktu-waktu tertantu pelanggan harus rela antri demi mendapatkan kenikmatan dari lelehan sambal dengan rasa asam manis dan pedas yang pas, dipadu potongan kecil aneka buah segar, seperti jambu air, jambu kristal, bengkuang, nanas, pepaya, kedondong, serta manga, tersaji dalam kotak mika.
“Ada dua varian sambal, yaitu rasa pedas dan rasa asam manis. Selera lidah orang beda-beda, ada yang tahan pedas, ada juga yang suka asam manis. Makanya saya buat dua varian bumbu sambal,” ujar Diky.
Dalam kondisi apapun, menurut Diky, dirinya senantiasa merasa bersyukur, karena usaha yang telah dia geluti selama 3 tahun, dan berawal dari usaha turun temurun keluarganya itu masih bertahan hingga sekarang, meski dulu sempat jadi rebutan pelanggan, atau sempat viral tanpa peranan media sosial, tetapi dari mulut ke mulut kesaksian konsumen yang pernah jajan kuliner sehat di tempatnya, dan sekarang sedikit mengalami penurunan.
“Namun saya yakin, kondisi sedikit penurunan pembeli tak hanya dirasakan oleh saya, hampir semua pedagang mengalami hal yang sama di masa sekarang ini. Yang jelas, asal tidak menyerah peningkatan jumlah pembeli akan kami rasakan kembali, seiring membaiknya kondisi ekonomi. Dan keyakinan ini didasari dengan masih bertahannya para pelanggan setia saya dari dulu hingga sekarang,” tutur Diky. (Yud’s)

