Berbagai ancaman serius bagi generasi muda, atau Generasi Z dan Alpha terus menggurita dan multidimensi, mulai dari aspek kesehatan mental, sosial, teknologi, hingga ideology. Yang paling radikal dalam membegal masa depan asset bangsa tersebut adalah narkotika dan obat keras.
Berdasarkan data, penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda (usia 15-35 tahun) di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan mencapai 82,4% sebagai pengguna, 47,1% sebagai pengedar, dan 31,4% sebagai kurir. Ancaman ini tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental individu, tetapi juga mengganggu produktivitas, menghancurkan hubungan sosial, serta mengancam ketahanan nasional.
Lalu yang tajam menembus hingga pelosok pedesaan, karena mudah didapat dengan harga murah adalah Tramadol dan Eximer (sering merujuk pada Hexymer), dua jenis obat keras yang sering disalahgunakan di Indonesia. Keduanya bukan suplemen atau vitamin, melainkan obat resep yang penggunaannya harus di bawah pengawasan ketat tenaga medis. Penyalahgunaan kedua obat ini berisiko menyebabkan kecanduan, masalah kesehatan fisik/mental, bahkan kematian.
Peredaran obat keras jenis Tramadol dan Eximer kini benar-benar menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Obat yang seharusnya hanya boleh dikonsumsi berdasarkan resep dokter itu, justru dengan mudah diperoleh oleh kalangan remaja, bahkan pelajar SMP dan SMA.
Fenomena ini bukan baru terjadi. Berdasarkan penelusuran lapangan dan keterangan sejumlah warga serta tokoh masyarakat, peredaran bebas kedua obat tersebut mulai marak sekitar 2018–2019, dan meningkat tajam sejak masa pandemi COVID-19. Saat aktivitas sekolah beralih daring, pengawasan terhadap remaja menurun, sementara akses terhadap obat keras ilegal justru semakin terbuka.
Obat-obatan tersebut dijual secara sembunyi-sembunyi melalui toko obat ilegal berkedok kios kosmetik, konter pulsa, warung kecil, hingga rumah pribadi. Sistem penjualannya pun relatif mudah. Pembeli tidak memerlukan resep dokter dan hanya cukup menyebut “paket” atau jumlah butir yang diinginkan.
Bahkan, para penjual sering menargetkan remaja dengan harga murah. Satu butir Tramadol bisa dibeli mulai Rp5.000 hingga Rp10.000, sementara Eximer lebih murah dan kerap dijual dalam paket puluhan butir.
Warga menyebut beberapa kawasan yang kerap menjadi lokasi transaksi, terutama area dengan mobilitas tinggi dan banyak kos-kosan pekerja muda serta pelajar. Modus yang paling sering ditemukan adalah:
* kios kosmetik yang tidak memiliki izin farmasi
* toko obat tanpa apoteker
* warung yang beroperasi hingga dini hari
* transaksi lewat perantara teman sebaya
* datang langsung ke rumah pribadi bandar atau pengedar
Transaksi biasanya berlangsung cepat. Penjual tidak menanyakan identitas pembeli, bahkan pembeli di bawah umur pun tetap dilayani.
Kenapa Remaja Mengonsumsi?
Sebagian remaja menganggap Tramadol dan Eximer sebagai “pil koplo” atau obat penambah rasa percaya diri. Mereka mengonsumsinya sebelum nongkrong, tawuran, hingga balap liar. Ada pula yang menggunakannya agar tidak mengantuk saat begadang.
Padahal, keduanya merupakan obat keras golongan G yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat.
Efek yang Dirasakan Pengguna. Efek awal yang dicari pengguna biasanya berupa:
* rasa tenang berlebihan (euforia)
* badan terasa ringan
* tidak takut atau berani berlebihan
* tidak merasakan sakit
Namun efek tersebut hanya sementara. Setelahnya muncul dampak berbahaya.
Dampak Buruk bagi Remaja
Tenaga medis menyebut penggunaan tanpa pengawasan dokter sangat berbahaya karena memicu ketergantungan. Pengguna akan terus meningkatkan dosis untuk mendapatkan efek yang sama.
Efek jangka pendek:
* pusing berat
* mual dan muntah
* bicara melantur
* kehilangan keseimbangan
* mata kosong (linglung)
* halusinasi
Efek jangka panjang:
* kerusakan saraf otak
* gangguan perilaku
* agresif dan mudah emosi
* gangguan kejiwaan
* depresi berat
* kecanduan
Kasus Terparah
Dalam beberapa kasus yang ditemui warga, pengguna berat mengalami kondisi yang mengkhawatirkan. Remaja bisa berjalan tanpa arah, berbicara sendiri, bahkan tidak mengenali keluarga. Ada pula yang mengalami kejang hingga pingsan.
Tenaga kesehatan menjelaskan overdosis Tramadol dapat menyebabkan:
* kejang hebat
* gagal napas
* koma
* kematian
Sementara konsumsi Eximer berlebihan dapat memicu **psikosis obat**, yakni gangguan mental mirip skizofrenia. Korban mengalami halusinasi melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata.
Tak sedikit pula remaja yang akhirnya harus dirawat di rumah sakit jiwa atau direhabilitasi karena kecanduan.
Ancaman Sosial di Lingkungan
Selain berdampak pada kesehatan, penyalahgunaan Tramadol dan Eximer juga berkorelasi dengan meningkatnya kenakalan remaja seperti:
* tawuran
* pencurian
* perusakan fasilitas umum
* kekerasan jalanan
Banyak pelaku kejahatan jalanan diketahui berada dalam kondisi “fly” atau tidak sadar penuh akibat pengaruh obat.
Perlu Penanganan Serius
Tokoh masyarakat menilai masalah ini sudah masuk tahap darurat. Orang tua sering kali tidak menyadari perubahan perilaku anak, karena gejalanya mirip kenakalan biasa: pulang larut, mudah marah, dan prestasi sekolah menurun.
Warga berharap adanya tindakan tegas terhadap toko obat ilegal serta pengawasan terpadu dari aparat, sekolah, dan keluarga. Karena, jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menjadi korban berikutnya dari peredaran obat keras ilegal yang kini semakin mudah diakses. (Redaksi)

