Kuningan – Pemerintah Kabupaten Kuningan menggencarkan edukasi deteksi dini kanker anak. Melalui Dinas Kesehatan, Pemkab Kuningan menggelar Sosialisasi Kanker Anak bagi Tenaga Kesehatan dan Kader PKK di Teras Pendopo Kabupaten Kuningan, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Yayasan Anyo Indonesia bersama dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi, dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), sebagai narasumber.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., hadir langsung dan mengapresiasi kolaborasi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. Edi Martono, MARS., mengatakan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas nakes dan kader dalam mengenali tanda dan gejala awal kanker anak agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.
Menurut Edi, kanker anak tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada aspek psikologis, pendidikan, sosial, hingga ekonomi keluarga.
“Anak yang menjalani pengobatan kanker sering kali harus berhenti sekolah sementara, menjalani pemeriksaan dan pengobatan berulang, hingga kehilangan kesempatan bermain bersama teman-temannya. Karena itu, penanganan kanker anak membutuhkan dukungan semua pihak,” ujar Edi.
Edi mengungkapkan, masih banyak kasus kanker anak yang baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi itu umumnya disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap tanda-tanda awal serta rasa takut orang tua membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Ia pun meminta seluruh tenaga kesehatan di puskesmas meningkatkan kewaspadaan, memberikan pelayanan yang ramah, cepat, dan mudah dipahami. Puskesmas, kata dia, merupakan garda terdepan dalam edukasi, deteksi awal, hingga proses rujukan.
Selain nakes, peran kader PKK dan kader kesehatan dinilai sangat strategis karena menjadi kelompok yang paling dekat dengan masyarakat dan paling mengenal kondisi keluarga di lingkungannya.
Ketua Yayasan Anyo Indonesia, Pinta Manulang Panggabean, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Kabupaten Kuningan. Ia mengaku baru pertama kali mengunjungi Kuningan dan terkesan dengan lingkungan yang bersih serta komitmen pemerintah daerah terhadap isu kesehatan.
Pinta menjelaskan, Yayasan Anyo Indonesia telah berdiri selama 14 tahun dan konsisten bergerak memberikan edukasi, pendampingan, hingga bantuan bagi anak-anak penyintas kanker di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sosialisasi tersebut terungkap fakta bahwa Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 83 dokter spesialis hematologi onkologi anak. Sementara itu, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 11.000 kasus baru kanker anak. Keterlambatan diagnosis menjadi salah satu penyebab masih rendahnya angka kelangsungan hidup pasien kanker anak di Indonesia.
Untuk memberikan inspirasi, Yayasan Anyo juga menghadirkan penyintas kanker mata atau retinoblastoma, Siti Julia. Kehadirannya menjadi bukti bahwa kanker anak dapat dilawan jika ditangani tepat dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sementara, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengajak seluruh peserta memanfaatkan momen langka untuk belajar langsung dari salah satu dari sedikit dokter spesialis kanker anak di Indonesia.
“Kesempatan seperti ini sangat jarang. Dokter spesialis kanker anak di Indonesia jumlahnya sangat sedikit. Mari manfaatkan waktu ini untuk menambah ilmu demi keselamatan anak-anak kita,” kata Dian.
Bupati juga mengisahkan perjuangan pendiri Yayasan Anyo Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak penderita kanker setelah kehilangan putra tercinta akibat penyakit tersebut. Menurutnya, dedikasi tersebut merupakan bentuk pengabdian luar biasa yang patut diapresiasi.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa penanganan kanker anak bukan hanya tanggung jawab keluarga dan tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, kader PKK, hingga masyarakat luas.
“Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita. Edukasi, kepedulian, dan deteksi sedini mungkin menjadi kunci agar mereka mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik,” tutur Dian. (Redaksi)

