Kuningan – Paska pelaksanaan acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dari ketua lama Iing Sakirman pada ketua baru Harry Septian Nugraha, yang dilangsungkan di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan, pada Minggu (3/5/2026). Dipastikan, ketua dan pengurus baru Kendangers Kuningan akan semakin tangguh dalam langkah pelestarian warisan seni budaya, khususnya pada bidang kendang.
Keyakinan itu diungkapkan ketua lama Kendangers Kuningan Iing Sakirman, karena seluruh pengurus dan anggota organisasi para juru kendang atau musisi yang memainkan instrumen kendang (gendang) dalam ansambel gamelan se Kabupaten Kuningan, dengan jumlah anggota sebanyak 320 orang itu kuat memegang komitmen.
“Komitmen kami yang tertuang dalam visi organisasi yakni, sabeungkeutan (satu ikatan) menjaga silaturahmi dalam menumbuhkan jatidiri sebagai kendangers yang bermoral, berkarakter, dan menjadi garda terdepan untuk melestarikan kesenian sunda, khususnya pada bidang kendang,” ungkap Iing, Minggu (10/5/2026).
Langkah selanjutnya paska Sertijab, menurut Iing yang saat ini menjabat sebagai Pelindung, adalah penyerahan Surat Keputusan (SK) Kendangers yang rencanya akan dilaksanakan bersamaan dengan event Milangkala Kendangers Kuningan, selama dua hari, yaitu pada Jumat hingga Sabtu, tanggal 17-18 Juli 2026.
Namun, sambung Iing, sebelum penyerahan SK bukan berarti stagnan, tetapi justru bertabur kegiatan akan mewarnai langkah organisasi yang berdiri sejak 13 Juli 2018 itu. Seperti di antaranya yang terdekat, coaching klinik, berupa pelatihan dasar pola tabuh kendang tradisi, mulai dari penyebutan bunyi, lalu dasar-dasar pola tabuh dan sebagainya, dengan rencana pelaksanaan pada hari Jumat (15/5/2026), bertempat di Saung Kopi Hawu.
“Hal inipun, sesuai dengan misi kami, menjalankan amanat Galunggung, hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, ada dulu ada sekarang, tak ada dulu tak ada sekarang. Merawat akar adalah merawat harapan,” ujarnya.
Dimana, kata Iing, pada poin pertama misi adalah, Menjaga, Regenerasi dan Berkarya. Penafsirannya, menjaga marwah tradisi dengan menempatkan orang tua sebagai panutan (role model) dalam pelestarian seni yang menjadi tolak ukur bagi ruang tumbuh generasi kendangers untuk melestarikan warisan leluhur, khususnya kekaryaan dalam bidang kendang.
Kedua Konservasi, yaitu mewujudkan komunitas Kendangers yang tangguh dalam melestarikan warisan budaya, serta berkomitmen menjaga harmoni lingkungan berkesenian melalui prinsip etika budaya Sunda.
Ketiga Edukasi, sebagai ruang bertukar ilmu, pendapat, juga pengalaman berkesenian khususnya dalam bidang kendang.
Keempat Produksi, mencipta karya dari ide gagasan yang dituangkan kedalam proses kreatif berupa pengembangan pola tabuh, komposisi, juga penciptaan yang berakar dari nilai – nilai tradisi.
“Misi kelima adalah Kolaborasi, dimana kami bersinergi dalam budaya, berkolaborasi dalam perbedaan, demi mewujudkan harmonisasi yang inovatif. Seiring dengan konsentrasi pada kesejahteraan anggota organisasi, sesuai misi keenam, Kesejahteraan, atau mewujudkan komunitas Kendangers yang sejahtera, bermartabat, dan berdaya saing tinggi,” tutur Iing. (Yud’s)

