Kuningan – Tugu Angklung, sebuah maha karya yang lahir dari gagasan Pimpinan Daerah Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, menjadi simbol kebanggan Kuningan, diwujudkan melalui dana hibah Bank Kuningan, serta terealisasi dengan konseptor Dading Fajarudin, S.Si, M.A.P, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Industri Pariwisata, Dinas Pemuda Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).
Tugu dengan tagline “Dari Rahim Kuningan, Menyapa Dunia”, tegak berdiri megah dipoles taman minimalis nan asri tepat dipertigaan gerbang sentra pariwisata Palutungan, atau pertigaan Jalan Cipari-Jalan Baru Cisantana itu, menurut Dading, bukan sekadar monumen, melainkan simbol budaya yang menjelma menjadi kebanggaan baru masyarakat Kabupaten Kuningan.
“Tugu angklung ini bukan hanya penghias ruang kota, tetapi juga representasi doa, harapan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah lama hidup dalam denyut nadi masyarakat Sunda,” ujar Dading pada jurnalinformasi, Sabtu (14/3/2026).
Konsep perwujudan tugu monumental itu, dituturkan Dading, dengan struktur angklung raksasa dirancang berbentuk harmonis dan sarat makna, dimana setiap lekuk dan detailnya menggambarkan semangat pelestarian budaya, sekaligus menjadi penanda identitas daerah.
“Sebagai putra daerah merasa bangga diberikan kepercayaan oleh bapak bupati kuningan untuk mewujudkan mimpi beliau sesuai ekspektasi. Sekaligus memenuhi harapan beliau, yakni kehadiran Tugu Angklung di ruang publik ini mampu mengingatkan generasi muda, bahwa seni tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan,” ucapnya.
Lebih dari itu, kata Dading, pembangunan ikon angklung ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menjadikan Kuningan sebagai “Kabupaten Angklung”. Sebuah gagasan yang berangkat dari keyakinan bahwa potensi lokal harus dirawat dan dikembangkan dari tanahnya sendiri.
“Angklung sebagai alat musik bambu diatonis telah lama dikenal sebagai warisan budaya Nusantara. Dari getaran bambu yang sederhana, lahir harmoni yang menyatukan. Kini, melalui karya monumental di Cipari-Cisantana, harmoni itu tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas menuju Kuningan Melesat,” kata Dading.
Dading menegaskan, jika pemerintah daerah dan para pegiat seni berkeinginan, agar keberadaan Tugu Angklung mampu menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus ruang edukasi. Sebab di setiap getar angklung, tersimpan jati diri. Dan di setiap harmoni yang menggema, terpatri suara kebanggaan Kuningan yang tak ingin berhenti bergema.
Dading sendiri berharap, Tugu Angklung tersebut bisa terus dijaga dan dilestarikan, terus membumi dalam penegasan jika bernada diatonic lahir dari rahim Kuningan. Seraya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses pengerjaan tugu monumental itu, sehingga dalam waktu 17 hari bisa berdiri megah,
“Dan ini memberikan tantangan tersendiri bagi saya untuk mewujdukan mimpi itu. Semoga angklung bisa dimainkan di setiap pelosok desa, bukan sekedar simbol tapi harus menjadi bahasa universal. Kita menjaga akar agar dahan kita mampu menggapai langit,” tutur Dading. (Yud’s)

