Penulis: Raissa Sava Wardhana (Bem FH Unisba)
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Bandung telah sukses mengadakan diskusi publik tentang “Kemiskinan Bukan Takdir : Aksi dan Solusi untuk Masa Depan Lebih Baik” pada Jumat (10/1/2025) silam.
Badan Eksekutif Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung merupakan organisasi Mahasiswa yang turut berpartisipasi mengawal isu kemiskinan ekstrem yang terjadi di Indonesia dan bagaimana merumuskan solusi dan aksi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik sehingga terwujudnya social justice, keadilan sosial serta keadilan ekonomi.
Menurut KBBI, kemiskinan merupakan Keadaan tidak mempunyai uang atau harta benda (karena tidak bekerja atau pendapatannya sangat kecil, sehingga hidupnya kekurangan). Sedangkan menurut World Bank (Bank Dunia): Kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi di mana individu atau kelompok tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional yang sering diukur dengan pendapatan sekitar $1,90 per hari (garis kemiskinan ekstrem) pada 2021. Secara umum kemiskinan merupakan suatu kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu memenuhi keterbutuhan mendasar hidupnya secara layak. Keterbutuhan yang mendasar tersebut meliputi sandang, pangan, dan papan. Banyak sekali masyarakat Indonesia yang berada digaris ambang kemiskinan, mereka terus-menerus berseteru dengan memikirkan kehidupan untuk esok hari. Garis kemiskinan ini merupakan hal yang tidak pernah usai dalam penyelesaiannya oleh pemerintah.
Apabila kita cermati, Indonesia secara spesifik daerah Jawa Barat jumlah penduduk menurut data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) hidup sekitar 50.489.208 jiwa terhitung 30 Juni 2024. Dari data tersebut yang begitu banyak jumlahnya bukan berarti tidak berkonsekuensi. Konsekuensi dari banyaknya jumlah penduduk tersebut salah satunya yaitu kemiskinan. Angka kemiskinan di Jawa Barat telah mencapai 7,46% dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,85 juta orang. Angka yang mengguncang jiwa, menyadarkan kita pada realitas pahit, betapa banyak orang yang bimbang tentang hari esok dan banyak nyawa yang tergadaikan oleh angka yang tertulis dalam secarik kertas.
Banyak faktor dan dampak yang dapat bermunculan dari kemiskinan ini. Selain daripada faktor ekonomi yang terus menghantui masyarakat, ternyata persoalan struktural seperti ketidakmerataanya distribusi pendapatan, kualitas pendidikan yang rendah, dan akses yang terbatas terhadap sumber daya juga turut berperan dalam faktor kemiskinan. Di balik angkaangka statistik kemiskinan yang tercantum, tersimpan jutaan kisah pilu para masyarakat. Anakanak yang seharusnya bermain dan belajar, justru harus membantu orang tua mencari nafkah. Gizi buruk menggerogoti tubuh mereka, menghambat pertumbuhan fisik dan mental. Sementara itu, orang tua mereka bekerja keras dari pagi hingga malam, namun penghasilan yang didapatkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupan di bawah garis kemiskinan penuh dengan ketidakpastian. Penyakit datang tanpa diundang, akses terhadap layanan kesehatan terbatas, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik terasa hanyalah sebuah mimpi
Pemerintah Indonesia telah berupaya keras dalam mengurangi angka kemiskinan melalui berbagai programnya, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan program-program lainnya yang dinaungi oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Program-program tersebut telah memberikan manfaat bagi banyak keluarga miskin. Namun, masih banyak tantangan yang perlu dihadapi dalam segala penganggulangannya.
Salah satu kendala utama adalah koordinasi antar lembaga pemerintah yang belum optimal. Selain daripada itu, penyaluran bantuan seringkali tidak tepat sasaran dan terjadi penyimpangan anggaran. Perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap program-program yang telah berjalan, serta perbaikan sistem pengawasan dan akuntabilitas. Selain pemerintah, banyak elemen yang tentunya berperan aktif dalam usaha tersebut. Masyarakat memiliki peran penting dalam mengatasi kemiskinan karena merekalah yang berada secara langsung dilapangan. Kami sebagai mahasiswa memiliki peran yang jelas termaktub dalam tridharma perguruan tinggi, salah satunya adalah peran pengabdian terhadap masyarakat, yang dimana mahasiswa memiliki peran penting dalam proses penanggulangan kemiskinan. Dapat kita lihat, seluruh elemen memiliki perannya masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang sejahtera.
Dalam diskusi public yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (UNISBA) Agus Jabo selaku Wakil Mentri Sosial mengatakan dengan tajuk Social Talk: Kemiskinan Bukan Takdir : Aksi dan Solusi untuk Masa Depan lebih baik mengatakan :
“Kementrian Sosial hanya bekerja di sektor hilir. Padahal, problem kemiskinan berada di sektor hulu, yaitu problem structural dan problem ekonomi. Dan Pak Prabowo Subianto (Presiden Republik Indonesia) syarat syarat objektifnya bangsa kita tuh harus lebih hebat, mestinya lebih hebat dibandingkan bangsa-bangsa lain. Tetapi kita, kenapa kita begini-begini saja? Artinya ada persoalan, artinya ada masalah, masalah ini yang harus ditemukan. Sebagai salah satu unsur yang harus menentukan persoalan-persoalan kebangsaan ini adalah kampus. Dan saya pikir Universitas Islam Bandung (UNISBA) harus terlibat dalam proses mengkaji siapa jati diri kita ini,” ujar Agus Jabo.
Melihat daripada urgensi permasalahan ini, tentu kami selaku perwakilan dari mahasiswa yang dimana memiliki spirit juang yang tinggi tentunya sesuai dengan point ke tiga dari tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, rasanya perlu ada peran mahasiswa di dalamnya untuk sama-sama membantu mengentaskan persoalan tentang masalah kemiskinan ini. Kami siap sebagai mahasiswa untuk bekerja sama dalam hal ini baik secara moril maupun materil. Terkhususnya di ranah terdekat kami yaitu provinsi Jawa Barat, masih banyak daerah daerah yang terkendala akibat kemiskinan.
Saya mengamini apa yang disampaikan Bapak Agus Jabo untuk melihat berkenaan problem kemiskinan tidak boleh hanya dilihat parsial dari hilirnya saja. Tetapi harus utuh menyeluruh dalam memandangan persoalan tersebut. Kemiskinan sejatinya bukan takdir atau nasib, kemiskinan terjadi karena problem yang tak kunjung dipikirkan serius. Kita harus turun tangan bahu-membahu dalam persoalan ini. Apabila kita boleh mengutip apa yang disampaikan Munir Said Thalib “Kemiskinan adalah pelanggaran terhadap martabat manusia. Ketika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, itu berarti hak-haknya telah dilanggar. Mari kita bergerak dan berjuang untuk sebuah masyarakat yang adil, di mana tidak ada yang miskin karena ketidakadilan, dan tidak ada yang kaya karena penindasan.”
Kerjasama antara semua elemen yang saling terkoordinir dengan baik akan mewujudkan capaian yang diharapkan. Dan garis kemiskinan akan mulai memudar di Indonesia.
HIDUP MAHASISWA!

