Penulis : Dadan Tedianto (Penilik Paud Sindangagung)
Dulu pemuka agama berdebat bahwa dialah yang paling benar. Sekarang saya melihat manusia seperti ayam berebut makanan. Yang diperebutkan bukan hanya makanan, tetapi juga kekuasaan, jabatan, gelar dan kekayaan.
Siapa yang lebih besar, dialah yang dianggap lebih kaya. Karena merasa lebih besar, ia merasa tidak boleh disinggung. Ia memuja jabatan dan gelar. Tetapi ketika bertindak, kadang ia sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Nurani menjadi tidak penting. Yang penting dekat dengan kekuasaan.
Ia menjadi bisikan di telinga penguasa dan pengusaha. Bahkan ia bisa tertawa ketika merasa mampu menipu orang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan.
Mengapa manusia begitu ingin menjadi besar? Saya kembali kepada pikiran saya yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Pada dasarnya, Hyang Pencipta memberikan takdir dasar kepada kehidupan di dunia: napas, makan, tidur dan senggama.
Kebutuhan itu dirasakan melalui tubuh. Kemudian manusia diberi sesuatu yang lebih besar: otak. Manusia bisa melihat, mendengar, berpikir dan membayangkan. Dari sinilah manusia tidak lagi hanya mencari makanan untuk bertahan hidup.
Manusia mulai membandingkan dirinya dengan manusia lain.
Siapa yang lebih kuat?
Siapa yang lebih kaya?
Siapa yang lebih tampan?
Siapa yang lebih cantik?
Siapa yang lebih berkuasa?
Dan akhirnya, siapa yang lebih layak dipilih?
Di sinilah saya melihat hubungan yang aneh antara kebutuhan dasar manusia dan keinginannya menjadi yang terhebat.
Demi senggama, manusia ingin menjadi yang terbaik. Karena dengan menjadi yang terbaik, ia merasa mempunyai kesempatan untuk memilih yang terbaik.
Maka manusia mengejar banyak hal.
Ia mengejar kekayaan.
Ia mengejar jabatan.
Ia mengejar gelar.
Ia mengejar kekuasaan.
Ia ingin menjadi tampan atau cantik.
Bukan berarti semua manusia melakukan itu hanya demi senggama. Tetapi mungkin ada dorongan dasar yang ikut bekerja di belakang semua keinginan tersebut: keinginan untuk diterima, dipilih dan memiliki.
Lalu bagaimana dengan orang yang terpuruk?
Diamlah.
Jangan berkata.
Kalaupun katamu benar, belum tentu orang mau mendengarnya.
Kebenaranmu bisa tidak berarti di hadapan si tampan dan si cantik.
Bisa tidak berarti di hadapan orang kaya.
Bisa tidak berarti di hadapan orang yang mempunyai jabatan.
Bisa tidak berarti di hadapan orang yang mempunyai kekuasaan.
Karena manusia sering kali tidak memilih berdasarkan benar atau salah.
Manusia bisa memilih berdasarkan apa yang terlihat menarik, kuat dan menguntungkan.
Kemudian manusia membuat cerita.
Jika ada cerita, berarti ada imajinasi yang bergerak.
Yang mempunyai cerita itu jin, malaikat dan manusia. Merekalah yang mempunyai kemampuan bertanya.
Manusia mempunyai jasad dan mempunyai kuasa di dunia.
Tetapi kadang imajinasinya terlalu jauh.
Manusia mulai membayangkan kekuasaan di alam lain.
Ia membayangkan surga.
Ada bidadari.
Ada makanan dan minuman yang enak.
Ada tempat tidur yang megah.
Ada kenikmatan yang sempurna.
Manusia menggambarkan kehidupan setelah mati dengan memakai ukuran yang dikenalnya ketika hidup di dunia.
Tetapi manusia juga menyadari bahwa semua itu mungkin benar dan mungkin juga tidak.
Maka ia membayangkan kebalikannya.
Neraka.
Tempat yang menyeramkan.
Tempat penuh penderitaan.
Tempat manusia menerima akibat dari perbuatannya.
Lalu saya kembali kepada satu pikiran:
Janganlah berpikir Hyang Pencipta bisa disamakan dengan ciptaan.
Manusia mempunyai kebutuhan.
Manusia mempunyai keinginan.
Manusia mempunyai nafsu.
Manusia mempunyai imajinasi.
Manusia mempunyai kepentingan.
Karena itu, jangan sampai manusia membawa ukuran dirinya sendiri untuk mengukur Hyang Pencipta.
Sebab bisa saja manusia berbicara tentang kebenaran, tetapi sebenarnya sedang membela kepentingannya.
Bisa berbicara tentang agama, tetapi sedang mencari jabatan.
Bisa berbicara tentang surga, tetapi sibuk berebut dunia.
Bisa berbicara tentang moral, tetapi nuraninya sendiri sedang bernegosiasi dengan kekuasaan.
Dan mungkin pada akhirnya semua kembali kepada kebutuhan paling dasar manusia.
Demi senggama.
Mungkin itu salah satu alasan mengapa manusia ingin menjadi yang terhebat.
Ingin menjadi yang paling tampan.
Ingin menjadi yang paling cantik.
Ingin menjadi yang paling kaya.
Ingin menjadi yang paling berkuasa.
Ingin menjadi orang yang dipilih.
Tetapi setelah semua itu dicapai, pertanyaannya tetap sama:
Apakah kita benar-benar sedang mencari kebenaran, atau hanya sedang mencari cara agar diri kita menjadi yang paling dipilih?
Itu yang terpikir hari ini.
Selamat sore? selamat beraktivitas.

