KUNINGAN, JURNALINFORMASI.COM – Kegiatan retret kepala sekolah SMP se-Kabupaten Kuningan yang digelar di Kebun Raya Kuningan, 21-23 Agustus 2026, menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Fakta tersebut diungkapkan langsung Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Rizal Arif.
Retret yang berlangsung selama tiga hari dua malam itu diikuti 79 dari total 117 kepala SMP negeri dan swasta di Kabupaten Kuningan. Rinciannya, 58 peserta laki-laki dan 21 peserta perempuan. Untuk sekolah swasta, hanya sekitar 3 kepala sekolah yang hadir.
“Ada yang nggak hadir, yang hadir 79 orang, dari swasta hanya 3 orang. Kita juga nggak memaksakan untuk ikut, yang negeri hampir semua ikut,” ungkap Rizal.
Ia menjelaskan ketidakhadiran sejumlah kepala sekolah disebabkan berbagai alasan, salah satunya bertepatan dengan agenda keluarga seperti wisuda.
Menurut Rizal, retret bertujuan membangun sinergitas antara kepala sekolah dengan unsur pimpinan daerah sekaligus memperkuat soliditas, kekompakan, dan kedisiplinan.
“Tujuannya membangun sinergitas antara pimpinan daerah dengan kepala sekolah, membangun soliditas, kekompakan dan disiplin kepala sekolah,” katanya.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri dari unsur pimpinan daerah dan aparat penegak hukum, di antaranya Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, Sekretaris Daerah, unsur kepolisian, kejaksaan, serta Kodim.
Secara konsep, kegiatan diklaim berbasis pendidikan karakter untuk menyelaraskan visi misi Dinas Pendidikan dengan misi besar Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045.
Adapun bentuk kegiatannya meliputi diskusi penyelarasan visi misi, ramah tamah, pelatihan baris-berbaris, pemaparan materi, hiking, penanaman pohon, hingga outbound.
Terkait sumber anggaran, Rizal menyebut biaya kegiatan menggunakan Dana BOS sekolah. Ia menjelaskan penggunaan mengacu pada komponen peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan yang dapat digunakan untuk workshop, seminar, maupun kegiatan peningkatan kompetensi lainnya.
Untuk biaya, setiap peserta mengalokasikan anggaran sekitar Rp 3,8 juta. Dengan 79 peserta, nilai keseluruhan anggaran yang terkait dengan peserta mencapai sekitar Rp 300,2 juta.
Biaya tersebut sudah mencakup sejumlah kebutuhan kegiatan, termasuk seragam, konsumsi, narasumber, penginapan, serta kebutuhan instruktur selama pelaksanaan retret.
Pihak Disdikbud mengaku tidak mengelola langsung dana tersebut. Pelaksanaan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak penyelenggara atau event organizer (EO), dan pembayaran ditransfer langsung kepada EO.
“Kita bekerja sama dengan EO, jadi kita tidak mengelola semuanya. Semuanya ditransfer ke EO. Kita hanya memfasilitasi,” jelas Rizal.
Ia berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi mampu memberikan perubahan terhadap pola pikir kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya. (Redaksi)

