Oleh : Drs. D. Rusyono, M.Si. (Mengajar pada UBHI Kuningan-Jabar)
Sebelum mengupas lebih jauh tentang bersyukur, tidak ada salahnya kita bermuhasabah diri terlebih dahulu, apakah kita sudah termasuk hamba yang sudah bersyukur dan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, atau belum bahkan tidak bersyukur alias kufur nikmat, naudzubillah, tentu kita ingin termasuk golongan/hamba yang pandai bersyukur.
Sebetulnya tugas manusia (terutama bagi umat Islam) yang hakikatnya sebagai khalifah di muka bumi, sangatlah mudah yakni lakukan saja segala perintah Allah SAW dan tinggalkan segala yang dilarang-Nya, Insya Allah cukup dan akan selamat dunia akhirat, karena memang itulah ciri taqwa atau tattaqun/muttaqin manusia yang bertaqwa.
Dari sekian banyak surat penegasan Allah yang terangkum dalam Kitab Suci Al-Qur’an diantaranya dalam Surat Ibrahim (surat ke 14) pada ayat 7 yang berbunyi “Waiz ta azzana rabbakum Lain syakartum la azidannakum wa la ing kafartum inna ‘azabi lasyadid”, artinya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.
Kemudian dalam surat Ar-Rahman surat ke (55) yang berbunyi “fabiayyi ala’I rabbikkuma tukadziban” artinya “Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?” sampai diulang-ulang hingga 31 kali. Hal ini bermakna hikmah sebagai pengingat agar manusia dan jin selalu sadar dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, serta menegaskan betapa besar dan banyaknya rahmat serta kekuasaan Allah yang kerap kali suka diabaikan/didustakan.
Selanjutnya sebelum pembahasan lebih jauh, kita coba mencari tahu dulu arti tentang syukur nikmat, syukur secara umum adalah berterima kasih kepada Allah sebagai rasa lega/senang (KBBI, 2024). Sedangkan secara etimologi berasal dari bahasa Arab syakara, yaskuru atau syukuran dan syukron, yang berarti berterima kasih, pujian dan menyatakan nikmat.
Jadi bersyukur adalah menyatakan berterima kasih/pujian atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Lebih daripada itu syukur merupakan sikap yang lahir dari kesadaran dan pengakuan terhadap yang memberi nikmat (Allah SWT). Jadi bukan sekedar ucapan Alhamdulillah saja tetapi disertai dengan pernyataan hati dan perilaku. Adapun nikmat adalah rasa enak, lezat, senang, puas atas karunia yang berasal dari Allah. (tafsirqur’an.id, 2024).
Sedangkan secara konteks keislaman “nikmat adalah segala bentuk karunia, anugerah, kebaikan yang Allah berikan kepada makhluk-Nya yang menimbulkan rasa senang dan sukacita. (Sekolah Darut Tauhid, 2024)”. Adapun yang dimaksud dengan tanpa batas tiada lain adalah “kondisi yang sangat luas dan bebas tidak terhalang oleh ruang dan waktu atau tidak bertepi kecuali dengan kematian” (KBBI, 2024).
Selanjutnya salah satu kenicayaan bersyukur diantaranya adalah korelasi syukur nikmat dengan momentum HUT ke 81 Kemerdekaan RI maupun HUT-HUT yang lain seperti hari jadi kedaerahan, diantaranya Kabupaten Kuningan yang hari jadinya paralel/lanjutan dari HUT RI yaitu pada 1 September yang tahun 2026 ini yang ke 528 tahun.
Mengapa bersyukur menjadi sebuah keniscayaan yang tanpa batas, karena seluruh komponen kehidupan baik Negara maupun sosial kemasyarakatan senantiasa akan saling berhubungan/terkoneksi secara terus menerus/ber kesinambungan sepanjang hayat dikandung badan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS Al-Jumu’ah :10).
Nah dari setiap langkah/tahapan kegiatan tentunya harus disyukuri, contoh manjadi sarjana, mulai bisa masuk diterima kuliah sampai dengan lulus selalu diikuti dengan rasa syukur, contoh lain merdeka, dari mulai perang memperjuangkannya sampai memelihara/mengisinya sampai saat ini sudah menjadi maju, maka semua langkah perjalanannya juga disyukuri.
Begitu pula dalam praktek kenegaraan/pemerintahan, misalnya menjadi pemimpin atau menjadi warga negara/masyarakat yang dipimpin juga disyukuri, panjang umur dengan disertai sehat bisa pensiun, bisa mengenang jasa para pahlawan sehingga bisa memperingati HUT ke 81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ( ke 528 Kuningan, “Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi”.) juga tidak lepas dari bersyukur, apalagi yang bersifat menyenangkan wajib disyukuri, sampai dalam bentuk ujian/cobaanpun tetap bersyukuri sebagai peringatan dari Allah dengan hikmah agar kita tidak menjadi terlena/lupa diri, sebagaimana yang dinasihatkan oleh Nabi Muhammad Saw melalui lima perkara yaitu sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, hidup sebelum mati dan lapang sebelum sempit.
Jadi dengan demikian nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan, padahal manusia tinggal menjalaninya, merawatnya hingga selamat dan lestari dalam kerukunan dan kedamaian. Hidup Indonesia guna menggapai Indonesia Emas 2045, Hidup Kuningan guna melesat 2029. Dan karena syukur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia (Islam), maka menjadi sebuah keniscayaan yang berbanding lurus dengan kehidupan itu sendiri. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, Aamiin !

