FEATURE, JURNALINFORMASI – Jika Yogyakarta adalah ibu kota darurat Republik di tingkat nasional, maka bagi wilayah Cirebon dan Priangan Timur, ibu kota darurat itu bernama Ciwaru. Sebuah kecamatan terpencil di selatan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Di tengah hutan belantara dan perbukitan terjal inilah, Republik Indonesia yang baru seumur jagung mempertahankan napasnya dari kepungan Belanda antara 1945 hingga 1950. Sejarah itu kini hampir senyap.
Kabupaten Kuningan tidak hanya menjadi saksi Perjanjian Linggarjati yang mendunia. Ia adalah basis gerilya, pusat pengungsian pemerintahan, dan medan tempur berdarah yang membentuk watak perlawanan Jawa Barat.
Hutan Sebagai Benteng: Laskar Rakyat Kuningan
Ketika tentara Belanda dengan superioritas udara dan darat merebut kota-kota besar, para pejuang Kuningan memilih hutan sebagai markas.
Geografi Kuningan yang dikelilingi hutan lebat Gunung Ciremai dan perbukitan kapur Ciwaru-Ciniru menjadi modal taktis. Di sinilah berbagai badan perjuangan tumbuh subur dan sering kali bergerak tanpa komando terpusat.
Tercatat ada Angkatan Pemuda Indonesia (API), Sabilillah, Hizbullah, hingga Laskar Rakyat. Mereka bukan tentara reguler. Mereka adalah petani, santri, guru, dan pemuda desa yang mengangkat senjata apa adanya, dari bambu runcing hingga rampasan.
Pusat dari semua pergerakan itu adalah Ciwaru. Wilayah ini sengaja dipilih bukan karena kebetulan. Letaknya yang terisolir, jauh dari jalan raya utama, dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah menjadikannya lokasi ideal untuk ibu kota pengungsian dan mengatur penyelundupan logistik.
Empat Pilar Penjaga Kuningan
Perlawanan di Kuningan digerakkan oleh sinergi langka antara birokrat sipil, tentara reguler Siliwangi, dan pemimpin laskar rakyat.
1. Residen Hamdani, Sang Administrator Perang
Ketika Cirebon jatuh total ke tangan Belanda pada 30 Juli 1947, roda pemerintahan Keresidenan Cirebon lumpuh. Residen Hamdani mengambil keputusan berani: memindahkan seluruh pusat pemerintahan ke Kecamatan Ciwaru.
Dari Cibingbin, Ciwaru, ia menjalankan pemerintahan darurat. Ia membentuk Dewan Gerilya, mengatur distribusi logistik beras dan obat-obatan ke kantong-kantong gerilya, hingga memastikan sekolah-sekolah rakyat tetap berjalan di dalam hutan. Tanpa Hamdani, gerilya akan kehilangan arah politik.
2. Letkol Abimanyu, Otak Taktik Brigade V Siliwangi
Di sektor militer, komando dipegang Letkol Abimanyu. Ia memindahkan Markas Besar Brigade V Divisi Siliwangi ke Desa Cipedes, Ciniru. Dari perbukitan itulah ia merancang serangan hit and run ke pos-pos Belanda di Mandirancan dan Kuningan kota, memanfaatkan penguasaan medan.
3. Mustofa Sudirja, Hantu Hutan Ciwaru
Nama yang paling ditakuti intelijen Belanda adalah Mustofa Sudirja, Komandan Kompi Kusuma Negara. Pasukannya sangat mobil di hutan Ciwaru. Aksi sabotase terhadap jembatan, jalur kereta, dan patroli Belanda membuat militer Belanda meningkatkan operasi pembersihan besar-besaran khusus untuk memburu kompinya.
4. Sutan Akbar dan Divisi Bambu Runcing
Di luar struktur TNI, ada Sutan Akbar. Ia memimpin milisi Laskar Bambu Runcing yang menjadikan Ciwaru sebagai markas komando Jawa Barat. Kehadirannya menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan monolitik. Ada dinamika, persaingan, bahkan perbedaan ideologi antar-faksi pejuang, namun bersatu dalam satu tujuan: mengusir Belanda.
Peran yang tak kalah penting dimainkan oleh masyarakat sipil, termasuk mata-mata belia. Anak-anak muda Kuningan menyelundupkan informasi pergerakan patroli Belanda yang mereka hafal di luar kepala, disembunyikan dalam keranjang singkong atau di balik baju. *Bersambung ke bagian-2 (-Dari berbagai sumber). Dirgahayu RI ke-81 dan Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528 (Redaksi)

