FEATURE, JURNALINFORMASI – Di tengah hiruk-pikuk Car Free Day (CFD) Jalan Siliwangi, pusat Kota Kuningan, Jawa Barat, setiap Minggu pagi selalu ada pentas yang tak pernah sepi. Karena disana ada gelaran Heman Ka Budak (HKB).
Bagi warga luar Kuningan, istilah itu terdengar unik. Namun bagi masyarakat Kuningan, HKB sudah menjadi ritual mingguan. HKB adalah akronim dari Helaran Mingguan Kabudayaan Kuningan, sebuah pentas budaya dengan hamparan jalan aspal sebagai panggungnya, serta menampilkan kreasi seni dari TK, SD, SMP/MTs, SMA/SMK, perguruan tinggi, hingga sanggar dan masyarakat umum.
Pencetus sekaligus pengasuh setia gelaran ini adalah Dodon Sugiharto. Kepada jurnalinformasi.com, Dodon menceritakan perjalanan panjang HKB.
“HKB itu satu untuk semua. Semua bisa ikut,” kata Dodon.
Berawal dari Keterbatasan Anggaran di 2017
Ide HKB lahir bukan dari kemewahan anggaran. Dodon yang saat itu memegang Bidang Kebudayaan di Disdikbud Kuningan pada awal 2017, menyadari potensi seni pelajar dan masyarakat Kuningan yang luar biasa banyak namun tak mungkin ia kunjungi satu per satu.
Maka ia menciptakan jalan pintas: mengundang mereka tampil di satu panggung.
Gelaran perdana dimulai pada Minggu, 23 Desember 2017. Panggungnya sederhana, di perempatan Jalan Ahmad Yani – Siliwangi, digelar rutin setiap Minggu pukul 07.00 – 09.00 WIB saat CFD.
“Itu usaha swadana saja karena tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk HKB,” kenang Dodon.
Siapa saja bisa tampil. Tidak harus warga Kuningan. Dalam catatannya, Universitas Gunung Jati Cirebon, beberapa sanggar dari Cikijing, hingga grup seni dari Polres Kuningan pernah mengisi panggung HKB.
Sempat Vakum 5 Tahun, Kini Hidup Lagi Atas Permintaan Bupati
Perjalanan HKB tidak mulus. Pada periode pertama 2017-2020, HKB tercatat sudah digelar sebanyak 123 kali.
Namun, ketika Dodon dimutasi ke Disporapar pada tahun 2020, HKB ikut berhenti total.
“Saya sebenarnya bersedia menyediakan waktu dan tenaga bila dibutuhkan untuk membantu bila pengganti saya di kebudayaan ingin melanjutkan. Tapi entah kenapa hingga HKB akhirnya betul-betul off,” ujarnya.
Titik balik terjadi setelah ia pensiun pada September 2022. Pada Mei 2025, Bupati Kuningan secara khusus memintanya untuk menghidupkan kembali HKB dengan pertimbangan kegiatan ini sangat dibutuhkan masyarakat dan menjadi magnet budaya di CFD.
Dodon menyanggupi. Sejak 1 Juni 2026 hingga pekan ini, HKB periode kedua sudah berjalan sebanyak 57 kali gelaran. Antusiasme peserta membludak.
“Alhamdulillah antusias. Sekarang mah MLM, Multi Level Marketing saja. Biasanya pada saat di lokasi ada yang menghampiri untuk minta jadwal. Sekarang saja jadwal sudah terisi sampai bulan September,” kata Dodon sambil tertawa.
Jika dulu peserta hadir karena pembagian jadwal resmi per UPTD Pendidikan, kini peserta datang mendaftar secara mandiri.
Untuk gelaran ke-58 yang akan berlangsung Minggu, 16 Agustus 2026 besok, giliran aneka seni dari Universitas Kuningan (UNIKU) yang akan tampil.
Obsesi Besar: Dari Jalan Menuju Ikon Wisata
Dodon mengakui, dukungan pemerintah saat ini sudah bagus. Tanpa dukungan sound system, crew, dan perizinan dari Pemkab, ia tak akan sanggup menggelar acara seorang diri, apalagi di tengah kondisi keuangan daerah yang terbatas.
Namun, ia punya obsesi yang lebih besar. Ia ingin HKB dan CFD Kuningan tidak hanya menjadi ajang Minggu pagi, tapi menjadi ikon wisata budaya Kuningan.
“Dalam kepariwisataan, Kuningan kan tidak punya apa-apa. Semua lahan potensial wisata dikelola Perhutani dan TNGC. Mengapa CFD dengan HKB-nya tidak dibuat ‘Zero to Hero’ saja. Bisa kok,” tegasnya.
Menurutnya, kuncinya adalah niat untuk membesarkan dari hal kecil. Dengan polesan-polesan sederhana, CFD Kuningan bisa menjadi tujuan wisatawan luar kota. Buktinya, saat ini sudah mulai banyak penonton HKB yang datang dari luar Kuningan.
“HKB dan CFD bisa menjadi andalan pariwisata budaya khas Kuningan kalau mau. Asal diniatkan untuk menjadikannya besar,” pungkasnya. (-Sumber; Dodon Sugiharto, Penggagas dan pengelola HKB). Selamat Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan. (Redaksi)

