FEATURE, JURNALINFORMASI – Gedung Perundingan Linggarjati berdiri di tengah hawa sejuk kaki Gunung Ciremai, sebuah bangunan sederhana di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat yang mengubah peta sejarah Republik Indonesia.
Gedung seluas sekitar 800 meter persegi ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah panggung diplomasi pertama Republik Indonesia yang baru seumur jagung, tempat di mana kedaulatan bangsa diperjuangkan bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan naskah dan perundingan alot.
Dari Gubuk Ibu Jasitem Menjadi Panggung Sejarah Dunia
Jauh sebelum menjadi saksi sejarah, bangunan ini berawal dari gubuk sederhana milik Ibu Jasitem pada tahun 1918. Pada 1921, seorang warga Belanda bernama Tersana merenovasinya menjadi rumah semi permanen.
Karena situasi Jakarta yang tidak kondusif dan Yogyakarta sebagai Ibu Kota sementara RI dianggap terlalu jauh, Linggarjati dipilih sebagai jalan tengah yang netral atas usulan pihak Inggris.
Pada 10 November 1946, mediator asal Inggris, Lord Killearn, tiba di Cirebon. Sehari kemudian, sejarah pun dimulai.
Pada 11-13 November 1946, gedung ini menjadi arena Perundingan Linggarjati antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir didampingi A.K. Gani, Susanto Tirtoprodjo, dan Mr. Mohammad Roem. Sementara delegasi Belanda dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Belanda Willem Schermerhorn dan Hubertus van Mook.
Hasilnya adalah naskah bersejarah yang kita kenal sebagai Perjanjian Linggarjati – terdiri dari 17 pasal yang disepakati pada 15 November 1946 di Istana Merdeka dan ditandatangani secara resmi pada 25 Maret 1947.
Isinya menjadi tonggak krusial: Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia atas wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura, serta komitmen untuk membentuk Republik Indonesia Serikat.
Kini Jadi Museum dan Cagar Budaya
Mengingat peran vitalnya, bangunan ini diresmikan sebagai museum pada tahun 1976 dan kini ditetapkan sebagai Museum Khusus dan Kawasan Cagar Budaya yang dikelola pemerintah.
Di dalamnya, pengunjung dapat melihat replika ruang perundingan yang ditata menyerupai kondisi asli, foto-foto dokumentasi langka, hingga benda-benda peninggalan yang menggambarkan ketegangan dan harapan di masa itu.
Wajah Baru Linggarjati: Sentuhan Digital dan AI
Kementerian Kebudayaan RI menaruh perhatian serius pada revitalisasi kawasan ini. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan pengembangan museum harus melompat lebih jauh agar relevan dengan generasi muda.
“Kita perlu memperkuat sentuhan digital, seperti penggunaan rekaman arsip asli, animasi jalannya perundingan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk menghidupkan foto-foto lama. Dengan pendekatan ini, sejarah tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih imersif,” ucap Menbud RI.
Tak hanya Gedung Naskah, di kawasan yang sama juga berdiri Gedung Sjahrir yang tak kalah bersejarah. Gedung ini menjadi tempat peristirahatan Sutan Sjahrir di sela perundingan, yang juga pernah disinggahi Presiden Soekarno.
“Rumah ini sangat bersejarah karena menjadi tempat beristirahat di sela-sela perundingan. Sutan Sjahrir tinggal di sini, begitu juga Presiden Soekarno yang hadir berkunjung. Tempat ini menjadi saksi interaksi antara delegasi Indonesia, perunding Belanda seperti Van Mook, mediator Lord Killearn, hingga para jurnalis internasional yang mengabadikan momen bersejarah tersebut,” jelas Fadli Zon.
Gedung Perundingan Linggarjati adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya direbut di medan perang, tetapi juga dimenangkan di meja perundingan yang dingin di kaki Gunung Ciremai. Merawatnya berarti merawat ingatan kolektif bangsa. (-Dari berbagai sumber). Selamat Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan. (Redaksi)

