???????????????????
Kuningan – Komunitas Teater Sado kembali menegaskan eksistensinya sebagai kekuatan penting seni pertunjukan Indonesia melalui pementasan lakon “Ada Mayat Kentut”, dengan sambutan ratusan penonton memadati gedung kesenian yang pecah dalam tawa sekaligus hanyut paga suguhan satire serta refleksi sosial yang tajam namun menghibur, di Gedung Kesenian Raksawacana, Kuningan, Sabtu malam (24/1).
Ketua Komunitas Teater Sado, Edi Supardi, menyampaikan bahwa pementasan ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan ruang refleksi sosial yang dikemas dengan bahasa teater yang komunikatif.
“Lewat humor dan kekonyolan di atas panggung, kami mengajak penonton bercermin pada realitas sosial tentang kekuasaan, kepentingan, dan tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Edi Supardi.
Lakon satu babak berdurasi sekitar 30 menit ini merupakan karya legendaris Aan Sugianto Mas, yang pernah dipentaskan di berbagai kota di Jawa Barat dan Yogyakarta pada tahun 2002 dan mendapatkan apresiasi luas. Pada pementasan kali ini, penyutradaraan dipercayakan kepada D. Ipung Kusmawi dengan penata musik Wihendar.
Pementasan ini mempertemukan aktor lintas generasi Teater Sado. Tiga aktor yang terlibat dalam pementasan 24 tahun silam, D. Ipung Kusmawi, Edi Supardi, dan Cecep Ahyani kembali naik panggung bersama generasi baru Teater Sado, yakni Deni Hamzah, Moh. Khairun, dan Raka.
Menariknya, pementasan “Ada Mayat Kentut” juga melibatkan aktor anak-anak sebagai bagian dari struktur dramatik pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi penanda penting proses regenerasi dan investasi masa depan Teater Sado. Menurut Edi Supardi, pelibatan anak-anak tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang komunitas.
“Anak-anak ini adalah benih dan harapan masa depan Teater Sado. Mereka kami libatkan agar tumbuh bersama nilai, disiplin, dan kesadaran berkesenian sejak dini,” tuturnya.
Pementasan “Ada Mayat Kentut” menjadi puncak rangkaian kegiatan publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sebelum pementasan utama, digelar parade seni kolaboratif bertema “Alam: Tafsir Bunyi dan Tubuh”, yang menghadirkan sejumlah seniman mendunia dari berbagai disiplin seni.
Parade seni dibuka oleh Komunitas AKAR Kuningan dengan sajian musik karimba yang mengusung pesan pelestarian hutan dan lingkungan, khususnya kawasan Gunung Ciremai, sebagai bagian dari tafsir bunyi atas relasi manusia dan alam.
Selanjutnya tampil Yusuf Oeblet, seniman mendunia, yang menghadirkan lagu-puisi “Sado di Simpang Jalan” melalui permainan piano yang reflektif dan emosional. Karya ini menjadi ruang penghormatan terhadap sosok pendiri Teater Sado, Aan Sugianto Mas, yang berpulang pada tahun 2018.
Pentas kolaboratif berlanjut dengan penampilan Nani Dewi Sawitri, penari Topeng Losari mendunia, cucu maestro Mimi Dewi Sawitri, yang memukau penonton melalui gerak tari yang energik, magis, dan sarat nilai tradisi sebagai tafsir tubuh atas alam dan ingatan budaya.
Kolaborasi seni mencapai puncaknya saat Iing Sayuti, seniman tari kontemporer mendunia asal Indramayu, tampil bersama Nita Hernawati, deklamator Teater Sado. Eksplorasi gerak tubuh yang kuat berpadu dengan pembacaan puisi-puisi karya WS Rendra, menghadirkan pengalaman artistik yang menggugah dan menggetarkan batin penonton.
Turut hadir menyaksikan puncak aksi Teater Sado malam itu antara lain Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri, Nissa Rengganis; Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar; Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kuningan, Asep Budi Setiawan; Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus Kepala Bappeda Kabupaten Kuningan, Purwadi Hasan Darsono, serta para seniman, budayawan, akademisi, pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.
Dalam sambutannya, Bupati Kuningan menyampaikan apresiasi atas konsistensi Teater Sado dalam berkarya dan mengajak masyarakat menjadikan kebudayaan sebagai pendekatan penting dalam pembangunan daerah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sado Aan Sugianto Mas, Bias Lintang Dialog, menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara malam itu merupakan penanda tuntasnya program publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan. Di akhir acara, penonton diajak memekikkan motto kerja Teater Sado dengan penuh gelora: “Erek-erek, moal-moal.” (redaksi)

