Penulis : Dedi, S.Pd.
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) memang selalu menjadi persoalan yang sangat pelik. Eceng Gondok adalah tumbuhan air yang hidup di perairan tawar. Eceng Gondok sering dianggap sebagai gulma air yang mengganggu ekosistem perairan. Pertumbuhannya yang cepat dapat menyumbat aliran sungai, menutupi permukaan sungai, mengurangi kadar oksigen dalam air, serta mengganggu aktivitas perikanan dan transportasi air. Eceng Gondok terlanjur di vonis sebagai musuh. Seolah-olah Eceng begitu membahayakan.
Padahal kalau kita kaji secara mendalam. Sampah Eceng Gondok selalu mengingatkan kita untuk berbuat adil terutama terhadap lingkungan kita. Eceng Gondok mengajarkan kita untuk tertib dan peduli dengan lingkungan serta mengajak kita berbuat adil dan tidak egois.
Permintaan sampah Eceng Gondok pun sederhana tidak macam-macam yakni menyikapi dengan semestina. Caranya pun tidak neko-neko, misalnya meminta kita membuang pada tempatnya atau di olah menjadi barang yang bermanfaat. Eceng Gondok memiliki potensi besar sebagai sumber usaha dan sebagai pundi-pundi rupiah yang menjanjikan, asalkan dengan pengolahan yang tepat.
Menurut dari beberapa sumber. Eceng Gondok mengandung protein, serat, lemak, abu, kalsium, dan fosfor. Eceng gondok juga mengandung banyak asam humat yang dapat menghasilkan senyawa fitohara, asam triterpenoid, sianida, alkanoid, dan kalsium. Kandungan nutrisi eceng gondok terdiri dari Protein kasar: 10–26%, Serat kasar: 18–36%, Lemak kasar: 0,9–4,32%, Abu: 1,65–3,93%, Kalsium: 1,4–3,43%, Fosfor: 0,3–0,56%, dan Karbohidrat: 8,22%
Melihat hal tersebut, sudah seyogyanya kita menuruti permintaan Eceng Gondok yang sangat sederhana dengan cara dimanfaatkan sebagai pakan alternatif, bahan baku biogas, sumber asam humat, serta campuran dalam pembuatan pupuk organik. Potensi ini tidak hanya membantu mengurangi masalah lingkungan akibat pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali.
Berikut penjelasan lebih rinci manfaat Eceng Gondok yang tidak semua orang mengetahuinya.
1. Eceng Gondok sebagai Pakan Alternatif
Eceng gondok memiliki kandungan serat yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak, terutama untuk sapi, kambing, dan ikan. Agar lebih bernutrisi dan mudah di cerna, eceng gondok harus dilakukan proses fermentasi menggunakan mikroba, ragi, dan tetes tebu. Setelah difermentasi eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ayam kampung, entog, atau kalkun. Selain itu dapat dijadikan bahan pembuatan pakan ayam dan pellet ikan setelah dikeringkan dan dijadikan tepung. Penggunaanya 10 % dari berat bahan.
2. Pemanfaatan Eceng Gondok sebagai Biogas
Selain sebagai pakan, eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas. Proses pembuatan biogas dari eceng gondok dilakukan dengan cara eceng gondong di cacah lalu difermentasi anaerobik menggunakan bakteri metanogen selama 5-7 hari. Setelah difermentasi Eceng gondok dimasukan dalam biodigester yang dicampur dengan kotoran hewan akan menghasilkan gas metana yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan yang dapat digunakan untuk memasak maupun menghasilkan listrik. Dari 10 kg eceng gondok dapat menghasilkan gas metana yang bisa digunakan selama 25 menit. Hasil sampingan dari proses ini berupa sludge atau ampas biogas dapat digunakan kembali sebagai pupuk organik.
3. Ekstraksi Asam Humat dari Eceng Gondok
Asam humat merupakan senyawa organik yang berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah. Eceng gondok mengandung lignin dan selulosa yang dapat dikonversi menjadi asam humat melalui proses dekomposisi menggunakan mikroba dekomposer seperti Trichoderma dan Nitrobacter. Asam humat yang dihasilkan dari eceng gondok dapat digunakan sebagai bahan pembenah tanah untuk meningkatkan struktur tanah, mempercepat penyerapan unsur hara, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan. Cara membuat asam humat dari eceng gondok sangatlah mudah. Caranya:
1. Jemur eceng gondok lalu di cacah/blender sebanyak 5 kg;
2. Campurkan air bersih 10 liter, EM-4 100 ml, Molase 250 gram, trichoderma 10 gram lalu masukan kedalam ember;
3. Masukaneceng gondok yang sudah di jemur dan di blender kedalam larutan tersebut;
4. Aduk rata, lalu tambahkan dolomit untuk menjaga PH tetap stabil sebanyak 200 gram;
5. Tutup wadah dan biarkan 2-4 Minggu di tempat teduh;
6. Setiap 2 hari sekali, buka tutupnya dan aduk agar proses fermentasi merata;
7. Setelah 2-4 Minggu, larutan akan berwarna kehitaman menandakan terbentuknya asam humat dan siap panen;
8. Saring cairan menggunakan kain atau saringan halus;
9. Simpan dalam botol atau jarigen;
10. Asam humat siap digunakan sebagai pupuk cair untuk pembenah dan penyubur tanah;
11. Cara aplikasi. Untuk pupuk cair, larutkan 1 liter asam humat dalam air 20 liter, lalu semprotkan ke daun atau ke tanah. Sebagai activator kompos, tambahkan 1000 ml asam humat dalam air 50 liter lalu masukan molase 1 kg. Setelah itu, siramkan pada bahan pupuk organik.
4. Campuran dalam Pembuatan Pupuk Organik
Eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan pupuk organik. Campuran eceng gondok dalam pembuatan pupuk organik menempati porsi 30-40 % dari jumlah bahan lainya. Sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik, eceng gondok di cacah terlebih dahulu supaya proses dekomposisi berjalan dengan sempurna.
Proses pembuatan pupuk ini juga melibatkan berbagai bahan lainya seperti limbah pertanian, limbah pasar, limbah rumah tangga, limbah industri, kotoran hewan, abu, dolomit, dedak bakteri pengurai atau decomposer, gula/molase, dan air.
Keunggulan pupuk dari bahan eceng gondok adalah mempercepat pertumbuhan tanaman, memperbaiki struktur tanah, menyediakan unsur hara makro dan mikro, mengurangi ketergantungan pupuk kimia, dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan Eceng Gondok dalam berbagai bidang seperti pakan ternak, biogas, asam humat, dan pupuk organik tidak hanya menjadi solusi untuk mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma dapat diubah menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Oleh karena itu, perlu adanya edukasi dan pelatihan kepada masyarakat agar dapat mengoptimalkan potensi eceng gondok secara maksimal demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi.
Semoga bermanfaat…!

